Senin, 28 Januari 2013

Sebuah Realitas Menjadi Selembar Kisah Hitam di Atas Putih


Pertama kami bertemu saat aku baru saja selesai bermain bola di halaman sebelah rumah. Dia dating bersama ayahnya, semakin dia mendekat aku melihatnya dengan penuh rasa tanya, sepertinya aku pernah bertemu dirinya, tapi dimana…. Aku mulai mencari tahu siapakah gadis itu.
Menjelang beberapa hari aku mengetahuinya, ternyata dia adalah adik kelasku saat aku masih duduk di kelas 6 SD sekaligus pacar sahabatku pada saat itu. Entah mengapa rasa itu hadir dalam benakku terhadapnya, tapi aku sadar dia sudah menjadi milik sahabatku.
Beberapa bulan kemudian aku dan teman-teman pun menyelesaikan studi kami di SMA menuju tingkat lanjut di Universitas. Entah apakah ini, pada saat itu aku sedang berbaring istirahat di dalam kamar, dan disampingku ada temanku yang sedang menerima telpon dari seseorang. Tidak sengaja aku pun mendengarkan pembicaraan mereka. Tak terasa asing saat ku mendengarkan suara orang yang sedang berbicara dengan temanku itu, ya tepat sekali dia adalah gadis tersebut. Marsha, nama inisial dalam cerita ini.
Aku pun meminta temanku agar aku bias berbicara dengan marsha, dan dia pun memberikannya padaku untuk berbicara sejenak dengannya. Dalam perbincangan kami berdua aku hanya menanyakan kabarnya saja.
Beberapa bulan kemudian aku mencoba untuk memberikan pendekatan khusus setelah aku tahu kalau dia sudah tidak bersama lagi dengan sahabatku. Dan pada saat itu aku pun mengungkapkan perasaanku padanya meskipun dia tidak menjawab pertanyaanku itu, tapi dia hanya memberikan sebuah harapan kepada ku dengan memberikan sebuah ujian yakni, “kalau kamu memiliki perasaan itu terhadap ku, apakah kamu bias menunggu aku sampai kapan aku memberikan jawaban atas pertanyaanmu….????” Tanpa merasa ragu-ragu aku pun mengiyakan ujian tersebut.
Satu tahun pun berlalu, dan satu tahun pula kami berdua tidak ada komunikasi satu sama lain. Pada saat itu aku sedang liburan di kampung. Mungkin karena lamanya ujian yang dia berikan padaku aku hamper saja lupa bahwa aku pernah membuat perjanjian dengan gadis yang selama ini aku ingin miliki.
Di saat aku sedang duduk di warung depan rumahku bersama teman-temanku, tiba-tiba saja dia mengirim sms kepadaku dan menanyakan kabarku. Aku pun terkejut saat membaca smsnya. Setelah beberapa saat kami smsan diapun bertanya padaku “Dhy, apakah pertanyaan yang kali lalu kamu berikan padaku masih berlaku sampai sekarang…???” dengan percaya diri bahwa harapanku untuk memilikinya tidak sia-sia, aku pun menjawab “Iya, selama kamu belum memberikan jawaban atas pertanyaanku, pertanyaan itu masih berlaku sampai sekarang…”.
Kemudian beberapa saat kemudian dia pun mengirim sms balasan yang isinya dia menerima cintaku. Aku pun merasa senang karena penantianku selama 1 tahun ini tidak sia-sia.
8 bulan pun kami menjalani hubungan ini. Dalam selang waktu 8 bulan itu banyak sekali gejolak dalam hubungan kami berdua. Tapi itu hal biasa yang dialami  oleh pasangan anak muda.
Dan ini lah akhir kisah cinta kami berdua……
Pada saat itu kami sudah jalani hubungan ini sekitar 1 tahun lebih. Aku dengar dia ingin jalan-jalan ke ibu kota propinsi untuk membeli buku. Sebenarnya aku tidak mau dia pergi kesana. Karena aku tahu aku takut kalau dia kesana dia akan bertemu dengan mantan kekasihnya yang mungkin dalam perasaanku dia masih memiliki rasa sayang terhadapnya yang nota benenya adalah sahabatku tadi. Tetapi karena atas dasar kepercayaanku padanya dan aku ingin melihat dia bahagia akan kebebasannya, aku pun mengikhlaskannya untuk pergi kesana.
Setelah 2 hari dia di sana aku merasa aneh, kaya ada yang berbeda. Dan kecurigaanku itu benar tapi saat aku bertanya pada dirinya dia masih saja memberikan alas an-alasan untuk menutupi fakta yang ada. Aku pun dengan sabar menerima alas an tersebut.
Tapi hal itu membuat diriku menjadi sakit, dan aku mulai mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan ini. Dan aku pun berharap padanya agar merubah semua kebiasaan-kebiasaan tersebut untuk orang yang mencintaimu dengan tulus……..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar