Jumat, 18 Januari 2013


KONSEP STRATEGI
I.BELAJAR MENGAJAR
A.    Pengertian Strategi Belajar Mengajar
Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditntukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.
Ada empat strategi dasar dalam belajar mengajar yang meliputi hal-hal berikut:
1.      Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan
2.      Memilih system pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.
3.      Memilih dan menetakan prosedur, metode, dan teknik belajar mengajar yag dianggap paling tepat dan efektif sehinggah dapat dijadikan pegangan oleh guru dalam menunaikan kegiatan mengajarnya.
4.      Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau criteria serta standar keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya akan dijadikan umpan balik buat penyempunaan system instruksional yang bersangkutan secara keseluruhan.
Dari uraian di atas tergambar bahwa ada empat masalah pokok yang sangat penting yang dapat dan harus dijadikan pedoman buat pelaksanaan kegiatan belajar mengajar agar berhasil sesuai dengan yang diharapkan.
Pertama, spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku yang bagaimana diinginkan sebagai hasil belajar mengajar yang dilakukan itu. Disini terlihat apa yang dijadikan sebagai sasaran dari kegiatan belajar mengajar. Sasaran yang dituju harus jelas dan terarah. Oleh karena itu, tujuan pengajaran yang dirumuskan harus jelas dan konkret, sehingga mudah dipahami oleh anak didik. Bila tidak, maka kegiatan belajar mengajar tidak punya arah dan tujuan yang pasti. Akibat selanjutnya perubahan yang diharapkan terjadi pada anak didik pun sukar diketahui, karena penyimpangan-penyimpangan dari kegiatan belajar mengajar. Karena itu, rumusan tujuan yang operasional dalam belajar mengajar mutlak dilakukan oleh guru sebelum melakukan tugasnya di sekolah.
Kedua, memilih cara pendekatan belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif untuk mencapai sasaran. Bagaimana cara guru memandang suatu persoalan, konsep, pengertian dan teoti apa yang guru gubakan dalam memecahkan suatu kasus, akan mempengaruhi hasilnya. Satu masalah yang dipelajari oleh dua orang dengan pendekatan yang berbeda, akan menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang tidak sama. Norma-norma social seperti baik, benar, adil, dan sebagainya akan melahirkan kesimpulan yang berbeda dan bahkan mungkin bertentangan bila dalam cara pendekatannya menggunakan berbagai disiplin ilmu. Pengertian konsep dan teori ekonomi tentang baik, benar atau adil, tidak sama dengan baik, benar atau adil menurut pengertian konsep dan teori antropologi. Juga akan tidak sama apa yang dikatakan baik, benar atau adil kalau seorang guru menggunakan pendekatan pendekatan agama. Karena pengertian konsep dan teori agama mengenai baik, benar atau adil itu jelas berbeda dengan konsep ekonomi maupun antropologi. Begitu juga halnya dengan cara pendekatan yang digunakan terhadap kegiatan belajar mengajar. Belajar menurut teori asosiasi, tidak sama dengan pengetian belajar menurut teori problem solving. Suatu topic tertentu dipelajari atau dibahas denngan cara menghafal, akan beda hasilnya kalau dipelajari atau dibahas dengan teknik diskusi atau seminar. Juga akan lain hasilnya andaikata topic yang sama dibahas dengan menggunakan kombinasi berbagai teori.
Ketiga, memilih dan menetapkan prosedur, metode dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif. Metode atau teknik penyajian untuk memotivasi anak didik agar mampu menerapkan pengetahuan dan pengalamannya untuk memecahkan masalah, berbeda dengan cara atau metode supaya anak didik terdorong dan mampu berfikir bebas dan cukup keberanian untuk mengemukakan pendapatnya sendiri. Perlu dipahami bahwa suatu metode mungkin hanya cocok dipakai untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Jadi dengan sasaran yang berbeda, guru hendaknya jangan menggunakan teknik penyajian yang sama. Bila beberapa tujua yang ingin diperoleh, maka guru dituntut untuk memiliki kemampuan tentang penggunaan berbagai metode atau mengombinasikan beberapa metode yang relevan. Cara penyajian yang satu mungkin lebih terfokus pada peranan guru atau alat- alat pengajaran seperti buku, atau mesin computer misalnya. Ada pula metode yang lebih berhasil bila diapakai buat anak didik dalam jumlah yang terbatas.
B.     Klafikasi Strategi Belajar Mengajar
Menurut Tabrani Rusyan dkk., terdapat berbagai masalah sehubungan dengan strategi belajar mengajar yang secara keseluruhan diklasifikasikan seperti berikut : 1. Konsep dasar strategi belajar mengajar, 2. Sasaran kegiatan belajar, 3. Belajar mengajar sebagai sebagai system, 4. Hakikat proses belajar, 5. Entering behavior siswa, 6. Pola- pola belajar siswa. 7. Memilih system belajar mengajar, 8. Pengorganisasian kelompok belajar.
Klasifikasi suatu sampai Sembilan sebagaimana disebutkan diatas diuraikan secara singkat satu persatu berikut ini.
1.      Konsep Dasar Strategi Belajar Mengajar
Seperti telah diuraikan pada pembahasan sebelumnya, bahwa konsep dasar strategi belajar mengajar ini meliputi hal- hal : a) menetapkan  spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku, b) menentukan pilihan berkenaan dengan pendekatan terhadap masalah belajar mengajar, c) memilih prosedur, metode dan teknik belajar mengajar dan d) menerapkan norma dan criteria keberhasilan kegiatan belajar mengajar.
2.      Sasaran Kegiatan Belajar Mengajar
Setiap kegiatan blajar mengajar mmpunyai sasaran atau tujuan. Tujuan itu bertahap dan berjenjang mulai dari yang sangat operasional dan konkret, yakni Tujuan Instruksional Khusus dan Tujuan Instruksional Umum, tujuan nasional, sampai kepada tujuan yang sangat bersifat universal.
      Persepsi guru atau persepsi anak didik mengenai sasaran akhir kegiatan belajar mengajar akan mempengaruhi persepsi mereka  sasaran antara serta sasaran kegiatan. Sasarn itu harus diterjemahkan kedalam ciri- cirri perilaku kepribadian yang didambakan. Pada tingkat sasaran atau tujuan yang universal, manusia yang didamkan tersebut harus memiliki kualifikasi : a) pengemabangan bakat secara optimal, b) hubgungan antar manusia, c) efisiensi  ekonomi , dan d ) tanggung jawab selaku warga Negara.
3.      Belajar Mengajar sebagai Suatu Sistem
Belajar mengajar selaku suatu system instruksional mengacu kepada pengertian sebagai seperangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan. Selaku suatu system, belajar mengajar meliputi suatu komponen antara lain tujuan, bahan, siswa, guru, metode, situasi, dan evaluasi. Agar tujuan ini tercapai, semua komponen yang ada harus diorganisasikan sehingga  antarsesama, komponen terjadi kerja sama. Karena itu, guru tidak boleh hanya memperihatikan komponen- komponen tertentu saja misalnya metode.
4.      Hakikat Proses Belajar Mengajar
Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Artinya tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengeahuan, keterampilan maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi. Kegiatan belajar mengajar seperti mengorganisasi pengalaman belajar, kesemuanya termasuk dalam cakupan tanggung jawab guru. Jadi, hakikat belajar adalah perubahan.
5.      Entering Behavior Siswa
Hasil kegiatan belajar mengajar tercermin dalam perubahan perilaku, baik secara material- subtansial, struktual- fungsional, maupun secara behavior. Yang dipersoalkan adalah kepastian bahwa tingkat prestasi yang dicapai siswa apakah benar merupakan hasil kegaiatan belajar mengajar yang bersangkutan. Untuk kepastiannya seharusnya guru mengetahui tentang karakteristik perilaku anak didik saat meereka mau masuk sekolah dan mulai dengan kegiatan belajar mengajar dilangsungkan, tingkat dan jensi karakteristik perilaku anak didik yang telah dimilikinya ketika mau mengikuti kegiatan belajar mengajar. Itulah yang dimaksudkan dengan entering behavior siswa.
  
II. POLA- POLA BELAJAR SISWA
            Robert M. Gagne membedakan pola- pola belajar siswa kedalam delapan tipe, diamana yang satu ini merupakan prasyarat bagi yang lainnya yang lebih tinggi hierarkinya. Delapan tipe belajar dimaksudkan adalah : 1) Signal learning (belajar isyarat), 2) stimulus- response learning ( belajar stimulus- respons), 3 Chaining (rantai atau rangkaian0, 4) Verbal association (assosiasi verbal), 5) Discrimation learning (belajar kriminasi), 6) Consept learning (belajar konsep), 7) rule learning (belajar aturan), dan 8 ) problem solving (memecahkan masalah).
             Kedelapan tipe belajar sebagaimana disebutkan diatas akan diuraikansatu presatu secara singkat dan jelas sebagai berikut :
a.      Belajar tipe 1 : Signal Learning (Belajar Isyarat)
Belajar tipe ini merupakan tahap yang paling dasar. Jadi, tidak menuntut persyaratan. Jadi, tidak menuntut persyaratan, namun merupakan hierarki yang harus dilalui untuk tipe belajara yang paling tinggi. Signal learning dapat diartikan sebagai proses penguasaan pola-pola dasar perilaku bersifat involuntary (tidak sengaja dan tidak disadari tujuannya ). Dalam tipe ini terlibat terlibat aspek reaksi emosional di dalamnya. Kondisi yang diperlukan buat berlangsungnya tipe belajar ini, adalah diberikannya stimulus (signal) secara serempak, perangsang- perangsang tertentu secara serempak, perangsang- perangsang tertentu secara berulang kali.
b.      Belajar tipe 2: Stimulus- Respons Learning (Belajar Stimulus Respons).
Bila tipe diatas digolongkan dalam jenis classical condition,maka tipe belajar 2 ini termasuk kedalam instrumental conditioning (Kinble 1961) atau belajar dengan trial and error (mencoba-coba ). Proses belajar bahasa pada anak- anak merupakan proses yang serupa dengan ini. Kondisi yang diperlukan untuk berlangsungnya tipe belajar ini adalah factor inforcement. Waktu antara stimulus pertama dan berikutnya amat penting. Makin singkat jarak S-R dengan S-R berikutnya, semakin kuat reinforcement.
c.       Belajar tipe 3 : Chainng (Rantai atau  Rangkaian)
Chaining adalah belajar menghubungkan satuan ikatan S-R (stimulus- respons) yang satu dengan yang lain. Kondisi yang diperlukan bagi berlangsungnya tipe belajar ini antara lain, secara internal anak didik sudah harus terkuasai sejumlah satan pola S-R, baik psikomotorik maupun verbal. Selain itu  prisnip kesinambungan, pengulangan, dan reinforcement tetap penting bagi berlangsungnya proses chaining.
d.      Belajar tipe 4 : Verbal Association (Assosiasi verbal )
Baik chaining maupun verbal association, kedua tipe belajar ini, setaraf, yaitu belajar menghubungkan satuan ikatan S- R yang satu dengan yang lain. Bentuk verbal association yang paling sederhana adalah bila diperlihatkan suatu bentuk geometris, dan si anak dapat mengatakan “bujur sangkar”, atau mengatakan “itu bola saya”, bila dilihatnya bolanya. Sebelumnya ia harus membedakan bentuk geometris, atau mengenal ‘’bola saya dan itu. Hubungan itu terbentuk, bila unsurnya terdapat dalam urutan tertentu, yang satu segera mengikuti yang satu lagi. (contiguity).
e.       Belajar tipe 5 : Verbal Discrimination Learning (Belajar Diskriminasi)
Discrimination learning atau belajar mengadakan pembeda. Dalam tipe ini anak didik mengadakan seleksi dan pengujian diantara dua perangsang atau sejumlah stimulus yang diterianya, kemudian memilih pola-pola respons yang dianggap paling sesuai. Kondisi utama bagi berlangsungnya proses belajar ini adalah anak didik sudah mempunyai kemahiran melakukan chaining dan association serta pengalaman (pola S-R).
f.       Belajar Tipe 6 : Concept Learning (Belajar Konsep)
Concept learning adalah belajar penegrtian. Dengan berdasarkan kesamaan cirri-ciri dari sekumpulan stimulus dan objek- objeknya , membentuk suatu pengertian atau konsep, kondisi utama yang diperlukan adalah menguasai kemahiran diskriminasi dan proses kogniitif fundamental sebelumnya.
g.      Belajar Tipe 7 : Rule Learning (Belajar Aturan)
Rule learning belajar membuat generalsasi, hokum dan kaidah. Pada tingkat ini siswa belajar mengadakan kombinasi berbagai konsep dengan mengoperasikan kaidah- kaidah logika formal (induktif, dedukatif, analiss, sintesis, asosiasi, diferensiasi, komparasi, dn kuasilitas ) sehingga anak didik dapat menemukan konklusi tertentu yang mungkin selanjutnya dapat dipandang sebagai “rule “ prinsi, dalil, aturan, hokum, kaidah, dan sebagainya.
h.      Belajar tipe 8 : Problem Solving ( pemecahan masalah)
Problem solving adalah belajar memecahkan masalah. Pada tingkat ini para anak didik belajar merumuskan memecahkan masalah memberikan respons terhadap rangsangan yang menggambarkan atau membangkitkan situasi problematic, yang mempergunakan berbagai kaidah yang telah dikuasainya.

III. METODE DAN ALAT
A.    Metode
        Metode dan alat adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang teah ditetapkan. Dalan kegiatan belajar menagajar, metode diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan  yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir. Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya bila tidak menguasai satu pun metode mengajar yang dirumuskan dan dikemukakan para ahli psikologi dan pendidikan (Syaiful Bahri Djamarah, 1991 : 72)
Dalam kegiatan belajar mengajar, guru tidak harus terpaku dengan menggunakan satu metode, tetapi guru sebaiknya menggunakan metode yang bervariasi agar jalannya pengajaran tidak membosankan, tetapi menarik perhatian anak didik. Oleh karena itu, pemilihan dang penggunaan  metode yang bervariasi tidak selamanya menguntungkan bila guru mengabaikan factor yang mempengaruhi penggunaanya. Prof. Dr. Winam Surakhmad,M. SC. Ed. Mengemukakan lima macam factor yang mempengruhi penggunaan metode megajar sebagai berikut :
a.       Tujuan yang berbagai- bagai jenis dan fungsinya
b.      Anak didik yang berbagai- baga tingkat kematangannya
c.       Situasi yang berbagai-bagai keadaannya
d.      Fasilitas yang berbagai-bagai kualitas dan kuantitasnya
B.     Alat
Alat adalah segala Sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Sebagai segala sesuatu yang dapat digunaka dalam mencapai tujuan pengajaran, alat mempunyai fungsi, yang sebagai perlengkapan, alat sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan, dan alat sebagai tujuan (Dr. Ahmad D. Marimba, 1989:51)
Alat dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu alat dan alat bantu pengajaran. Yang dimaksud dengan alat adalah berupa suruhan, perintah, larangan, dan sebagainya. Sedangkan alat bantu pengajaran adalah berupa globe, papan tulis, batu tulis, batu kapur, gambar, diagram, slide video, dan sebagainya. Ahli lain membagi alat pendidikan dan pengajaran menjadi alat material dan non material.
Karenanya, ada kecendrungan dari pihak guru untuk  memberikan bahan pelajaran sebanyak mungkin dengan memberikan penjelasan yang mendekati realisasi kehidupan dan pengalaman anak didik
Sebagai alat bantu dalam pendidikan dan penagajaran, alat material (audiovisual) mempunyai sifat sebagai berikut :
a.       Kemampuan untuk meningkatkan persepsi
b.      Kemampuan untuk meningkatkan pengertian
c.       Kemampuan untuk meningkatkan transper belajar
d.      Kemampuan untuk memberikan penguatan atau pengetahuan hasil yang dicapai.
e.       Kemampuan untuk meningkatkan retensi


IV.  EVALUASI
Evaluasi
            Istilah evaluasi berasal dari bahasa Inggris, yaitu evaluation Dalam buku Essentialsof Educational Evaluation karangan Edwar Wand dan Gerald W. Brown. Dikatakan bahwa Evaluation refer to the act or prosess to determining the value of something. Jadi, menurut Wand dan Brown, evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Sesuai dengan pendapat di atas, maka menurut pendidikan dapat diartikan sebagai tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai sebagai sesuatu dalam dunia pendidikan atau segala yang sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan.
            Berbeda dengan pendapat tersebut, Ny. Drs. Roestiyah N.K(1989: 85) mengatakan bahwa evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data luas- luasnya, sedalam-dalamnnya, yang bersangkutan dengan kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasi belajar system yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar.
            Dari kedua pengertian evaluasi tersebut, dapat diketahui tujuan penggunaan evaluasi. Tujuan evaluasi dapat dilihat dari dua segi, yaitu tujuan umum dan tujuan khsus. L. Pasar Ibu dan Sinmanjuntak menegaskan bahwa :
a.       Tujuan umum dari evaluasi adalah :
1.      Mengumpulkan data- data yang membuktikan taraf kemajauan murid dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
2.      Memungkinkan pendidik/ guru menilai pengalaman yang didapat.
3.      Menilai metode mengajar yang dipergunakan.
b.      Tujuan khusus dari evaluasi adalah :
1.      Merangsang kegiatan siswa
2.      Menemukan sebab- sebab kemajuan atau kegagalan.
3.      Memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan, perkembangan dan bakat siswa yang bersangkutan.
4.      Memperoleh bahan laporan tentang perkembangan siswa yang diperlukan orangtua dan lembaga pendidikan.
5.      Untuk memperbaiki mutu pelajaran/ cara belajar dan metode mengajar ( Abu Ahmad dan Widodo Supriyana, 1991:189)
Ketik eveluasi dapat memberikan manfaat bagi guru dan siswa,maka evaluasi mempunyai fungsi sebagai berikut:
a.       Untuk memberikan umpan balik kepada guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar mengajar, serta mengadakan perbaikan program bagi murid
b.      Untuk memberikan angka yang tepat tentang kemajuan atau hasil belajar dari setiap murid.
c.       Untuk menentukan murid didalam situasi belajar mengajar yang tepat, sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimiliki oleh murid.
d.      Untuk mengenal latar belakang murid yang mengalami kesulitan- kesulitan belajar, nantinya dipergunakan sebagai  dasar dalam pemecahan kesulitan- kesulitan belajar yang timbul.



V. BERBAGAI  PENDEKATAN
 DALAM BELAJAR MENGAJAR
Dalam kegiatan belajar mengajar yang berlangsung telah terjadi interaksi yang bertujuan. Guru dan anak didiklah yang menggerakkannya. Interaksi yang bertujuan itu disebabkan gurulah yang memaknainya dengan menciptakan lingkunagn yang bernilai edukatif demi kepentingan anak didik dalam belajar. Guru ingin memberikan layanan yang terbaik bagi anak didik, dengan menyediakan lingkungan yang menyenanngkan  menggairahkan. Guru berusaha menjdi pembimbing yang baik dengan peranan yang arif dan bijaksana, sehingga tercipta hubungan dua arah yang harmonis antara dua guru dengan anak didik.
Ketika kegiatan belajar mengajar itu berproses, guru harus dengan ikhlas dalam bersikap dan berbuat ,serta mau memahami anak didiknya dengan segala konsekuensinya.semua kendala yang terjadi dan dapat menjadi penghambat jalannya proses belajar mengajar,baik yang berpangkal dari perilaku anak didik maupun yang bersumber dari luar diri anak didik,harus guru hilangkan,dan bukan membiarkannya.Karena keberhasilan belajar mengajar lebih banyak ditentukan oleh guru dalam mengolola kelas.
A.    Pendekatan individual
Di kelas ada sekolompok anak didik.mereka duduk di kursi masing-masing.mereka berkolompok dari dua sampai lima orang.Di depan mereka ada meja  untuk membaca dan menulis atau untuk meletakkan fasilitas belajar.Mereka belajar dengan gaya yang berbeda-beda.Perialaku mereka juga bermacam-macam.Cara mengemukakan pendapat,cara berpakaian,daya serap tingkat kecerdasan,dan sebagainya,selalu ada variasinya.Masing-masing anak didik memang mempunyai karakterteristik tersendiri yang berbeda dari satu anak didik dengan anak didik lainnya.
B.     Pendekatan kelompok
Dalam kegiatan belajar mengajar terkadang ada juga guru yang menggunakan pendekatan lain,yakni pendekatan kelompok.Pendekatan kelompok memang suatu waktu diperlukan dan perlu digunakan untuk membina dan mengembangkan sikap social anak didik.Hal ini disadari bahwa anak didik adalah sejenis makhluk homo socius,yakni makhluk yang berkecenderungan untuk hidup bersama.
Keakraban kelompok ditentukan oleh beberapa factor,yaitu :
1.      Perasaan diterima atau disukai teman-teman;
2.      Tarikan kelompok;
3.      Teknik pengolompoka oleh guru;
4.      Partisipasi/keterlibatan dalam kelompok;
5.      Penerimaan tujuan kelompok dan persetujuan dalam mencapainya;
6.      Stuktur dan sifat-sifat kelompok.sdang sifat-sifat kelompok itu adalah ;
a.       Suatu multi personalia dengan tingkatan keakraban tertentu.
b.      Suatu system interaksi.
c.       Suatu organisasi atu struktur.
d.      Merupakan suatu motif tertentu dan tujuan bersama.
e.       Merupakan suatu kekuatan atau standar perilaku tertentu.
f.       Pola perilaku yang dapat diobservasi yang disebut kepribadian.
C.    Pendekatan bervariasi
Ketika guru dihadapkan kepada permasalahan anak didik yang bermasalah,maka guru akan berhadapan dengan permasalahan anak didik yang bervariasi.setiap masalah yang dihadapi oleh anak didik tidak selalu sama,terkadang ada perbedaan.
D.    Pendekatan edukatif
Apapun yang guru lakukan dalam pendidikan dan pembelajaran dengan tujuan untuk mendidik bukan karna motif-motif lain, seperti dendam,gengsi,ingin ditakuti, dan sebagainya.
Selain berbagai pendekatan yang disebutkan di depan,ada lagi pendekatan-pendekatan lain.Berdasarkan kurikulum atau garis-garis besar program pengajaran (GBPP)pendidikan agama islam SLTP tahun 1994 disebutkan lima macam pendekatan untuk pendidikan agama islam, yaitu :
a.      Pendekatan pengalaman
experience is the best teacher,pengalaman adalah guru yang terbaik,pengalaman adalah guru bisu yang tidak pernah marah.Pengalaman adalah guru yang tanpa jiwa,namun selalu dicari  oleh siapapun juga.Belajar dari pengalaman adalah lebih baik daripada sekedar bicara,dan tidak pernah berbuat sama sekali.belajar adalah kenyataan  yang ditunjukkan dengan kegiatan fisik.Karena itu,the proses of  learning is doing,reacting,undergoing,experiencing,the product of  learning are all achieved by the learner throught his own activity.(H.C Witherington W.H Burton,1998:57)
b.      Pendekatan pembiasaan
Pembiasaan adalah alat pendidikan.Bagi anak yang masih kecil,pembiasaan ini sangat penting.Karena dengan pembiasaan itulah akhirnya suatu aktivitas  akan menjadi milik anak di kemudian hari.Pembiasaan yang baik akan membentuk suatu sosok membentuk sosok manusia yang berkepribadian yang buruk pula.Begitulah biasanya yang terlihat dan yang terjadi pada diri seseorang.Karenanya,di dalam kehidupan bermasyarakat,kedua kepribadiaan yang bertentangan ini selalu ada dan tidak jarang terjadi konflik diantara mereka.
c.       Pendekatan emosional
Emosi adalah gejala kejiwaaan yang ada di dalam diri seseorang.Emosi berhubungan dengan masalah perasaan.Seseorang yang mempunyai perasaan pasti dapat merasakan sesuatu,bauk perasaan jasmaniah maupun perasaan rohaniah.Perasaan rohaniah di dalamnya ada perasaan intelektual,perasaan estetis,perasaan etis,perasaan social,dan perasaan harga diri. Menurut Chaljiah Hasan (1994:39) merasa adalah aktualisasi kerja dari hati sebagai materi dalam struktur  tubuh nanusiam,dan nerasa sebagai aktivis kejiwaan ini adalah suatu pernyataan jiwa yang bersifat subjektif.Hal ini dilakukan dengan mengemukakan suatu kesan senang atu tidak senang,dan umumnya tidak tergantung pada pengamatan yang dilakukan oleh indra.
d.      Pendekatan rasional
Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh sang maha pencipta yaitu Allah SWT. Manusia adalah nakhluk yang sempurna diciptakan.Manusia berbeda dengan mekhluk lainnya yang diciptakan ole Tuhan.Perbedaannya terletak pada akal.Manusia mempunyai akal,sedangkan makhluk lainnya seperti binatang dan sejenisnya tidak mempunyai akal.Jadi,hanya manusialah yang dapat berpikir,sedangkan makhluk lainnya tidak dapat berpikir.
e.       Pendekatan fungsional
Ilmu pengetahuan yang dipelajari oleh anak di sekolah bukanlah hanya sekedar pengisi otak,tetapi diharapkan berguna bagi kehidupan anak,baik sebagai individu maupun sebagai makhluk social.Anak dapat memanfaatkan ilmunya untuk kehidupan sehari-hari sesuai dengan tingkat perkenbangannya.Bahkan yang lebih penting adalah ilmu pengetahuan dapat membentuk kepribadian anak.Anak dapat merasakan manfaat daroi ilmu yang didapatnya di sekolah.Anak mendayagunakan daya guna dari suatu ilmu sudah fungsional di dalam diri anak.
E.     Pendekatan keagamaan
Pendidikan dan pelajaran di sekolah tidak hanya memberikan satu atau dua macam mata pelajaran,tetapi terdiri dari banyak mata pelajaran.Semua mata pelajaran itu pada umumnya dapat dibagi menjadi mata pelajaran umum dan mata pelajaran agama.Berbagia pebdekatan dalam pembahasan terdahulu dapat digunakan untuk kedua jenis mata pelajaran ini.Tentu saja penggunaannya tidak senbarangan,tetapi harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang dicapai. Dalam praktiknya tidak hanya digunakan satu,tetapi bisa juga penggabungan dua atau lebih pendekatan.
F.     Pendekatan kebermaknaan
Bahasa adalah alat untuk menyampaikan dan memahami gagasan pkiran,pendapat,dan perasaan,secara lisan maupun tulisan.Bahasa inggris adalah bahasa asing pertama di Indonesia yang dianggap penting untuk tujuan penyerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan,tekhnologi,seni budaya,dan pembinaan hubungan dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Beberapa konsep penting yang menyadari pendekatan ini diuraikan sebagai berikut :
1.      Bahasa merupakan alat untuk mengungkapkan makna yang diwujudkan melalui struktur (tata bahasa da kosa kata).Dengan demikian,struktur berperan sebagai alat pengungkapan makna (gagasan,pikiran,pendapat,dan perasaan)
2.      Makna ditentukan olejh lingkup kebahasaan maupun lingkup situasi yang merupakan konsep dasar dalam pendekatan kebermaknaan pengajaran bahasa yang natural,didukung oleh pemahaman lintas budaya.
3.      Makna dapat diwujudkan melalui kalimat yang berbeda,baik secara lisan maupun tertulis.
4.      Belajar bahasa asing adalah berkomukasi melalui bahasa tersebut,sebagai bahasa sasaran,baik secara lisan maupun tertulis.
5.      Motivasi belajar siswa merupakan factor utama yang menentukan keberhasilan belajarnya.
6.      Bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran menjadi lebih  bermakna bagi siswa jika berhubungan dengan pengalaman,minat,tata nilai,dan masa depannya.
7.      Dalam proses belajar mengajar,siswa merupakn subjek utama,tidak hanya sebagai objek belaka.
8.      Dalam proses belajar mengajar guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa mengembangkan keterampilan bahasanya.
           



VI. MACAM- MACAM METODE
Pada pembahasan terdahulu telah banyak dibicarakan mengenai kedudukan metode dalam kegiatan belajar mengajar dan cara memilih serta menentukan metode yang sesui dengan tujuan dan kondisi psikologis anak didik.
Pembahasan berikut akan membicarakan masalah macam-macam metode mengajaar secar global untuk memberikan tambahan wawasan umum. Diharapkan dengan uraian ini pembaca akan mendapatkan gambaran mengenai macam-macam metode mengajar, dan selanjutnya untuk mendalaminya, pembaaca dapat mencarinya dalam berbagai literatur yang terdapat pada pustaka acuan dibagian akhir buku ini.
Patut untuk diketahui, bahwa metode-metode mengajar yang dibahas disini belumlah semuanya dibicarakan dan untuk selanjutnya pembaca dapat menemukannya didalam literatur lain. Metode-metode mengajar yang diuraikan berikut ini adalah :
1.      Metode proyek
Metode proyek atau unit adalah cara penyajian pelajaran yang bertitik tolak dari suatu masalah, kemudian dibahas dari berbagai segi yang berhubungan sehingga pemecahannya secara keseluruhan dan bermakna.
Penggunaan metode ini bertolak dari anggapan bahwa bahwa pemecahan masalah tidak akan tuntas bila tidak ditinjau dari berbagai segi. Dengan perkataan lain, pemecahan setiap masalah peru melibatkan bukan hanya satu mata pelajaran atau satu bidang studi saja, melainkan hendaknya melibatkan berbagai mata pelajaran yang ada kaitannya dan sumbangannya bagi pemecahan, sehingga tersebut, sehingga setiap masalah dapat dipecahkan secara keseluruhan yang berarti. Dalam penggunaannya metode royek memiliki kelebihan dn kekurangan.
Kelebihannya
Beberapa kelebihan metode ini adalah metode ini antara lain :
1.      Dapat memperluas  pemikiran siswa yang berguna dalam menghadapi masalah kehidupan.
2.      Dapat membina siswa dengan kebiasaan menerapkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam kehidupan sehari-hari secara terpadu.Metode ini sesuai dengan prinsip-prinsip didaktik moderen yang dalam pengajaran perlu diperhatikan :
a.             Kemampuan individual siswa dan kerja sama dalam kelompok.
b.            Bahan pelajaran tidak terlepas dari kehidupan riil sehari-hari yang penuh dengan masaah.
c.             Pengembangan aktivitas, kreatifitas dan pengalaman siswa banyak di lakukan.
d.            Agar teori dan praktik, sekolah dan kehidupan masyarakat menjadi suatu kesatuan yang tak terpisahkan.
a.             Kekurangannya
Metode ini mengandung kekurangan, antara lain:
1.            Kurikulum yang berlaku di indonesia saat ini, baik secara vertikal maupun horizontal, belum menunjang pelaksanaan metode in.
2.            Pemilihan topik unit yang tepat sesuai dengan kebutuhan siswa, cukup fasilitas dan sumber-sumber balajar yang di perlukan, bukanlah merupakan pekerjaan yang mudah,
Bahan pelajaran sering menjadi luas sehingga dapat mengaburkan pokok unit yang di bahas.
2. Metode Eksperimen
            Metode eksperimen (percobaan) adalah cara penyajian pelajaran, dimana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari. Dalam proses belajar mengajar dengan metode percobaan ini siswa diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu objek, menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri mengenai suatu objek, keadaan, atau proses sesuatu. Dengan demikian, siswa dituntut untuk mengalami sendiri, mencari kebenaran, atau mencoba meencari suatu hukum atau dalil, dan menarik kesimpulan atas proses yang dialaminya itu.
Metode eksperimen mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai berikut :
a. Kelebihan metode eksperimen
    Metode eksperimen mengandung beberapa kelebihan antara lain:
1.      Membuat siswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya
2.      Dapat membina siswa untuk membuat terobosan-terobosan baru dengan penemuan dari hasil percobaannya dan bermanfaat bagi kehidupan manusia.
3.      Hasil-hasil percobaan yang berharga dapat dimanfaatkaan untuk kemakmuran umat manusia
b.Kekurangan metode eksperimen
    Metode eksperimen mengandung beberapa kekurangan, antara lain:
1.      Metode ini lebih sesuai dengan bidang-bidang sains dan teknologi
2.      Metode ini memerlukan berbagai fasilitas peralatan dan bahan yang tidak selalu mudah diperoleh dan mahal.
3.      Metode ini menuntut ketelitian, keuletan dan ketabahan
4.      Setiap percobaan tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan karena mungkin ada faktor-faktor tertentu ktor-faktor tertentu yang berada diluar jangkuan kemampuan atau pengendalian.
3.Metode tugas dan resitasi
      Metode resitasi(penugasan) adalah metode penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Masalahnya tugas yang dilaksanakan oleh siswa dapat dilakukan didalam kelas, atau dimaa saja asal tugas itu dapat dikerjakan
      Metode ini diberikan karena dirasakan bahan pelajaran terlalu banyak, sementara waktu sedikit. Artinya, banyaknya bahan yang tersedia dengan waktu kurang simbang. Agar bahan pelajaran elesai sesuai batas waktu yang ditentukan, maka metode inilah yang biasanya  guru gunakan untuk mengatasinya.
      Tugas dan resitasi tidak sama dengan pekerjaan rumah(PR) tetapi jauh lebih luas dari itu. Tugas biasanya bisa di lakukan di rumah,di sekolah, di perpustakaan , dan di tempat lainnya. Tugas dan resitasi merangsang anak untuk aktif belajar, baik secara individual maupun secara kelopok. Karena itu, tugas dapat diberikan secara individual, atau dapat pula secara kelompok.
      Tugas yang dapat diberikan kepada anak didik  ada berbagai jenis.Karena itu, tugas sangat banyak macamnya, bergantung pada tujuan yang akan di capai;seperti tugas meneliti,tugas menyusun laporan (lisan/tulisan),tugas motorik (pekrjaan motorik),tugas di laboratorium,dan lain-lain.
      Ada langkah-langkah yang harus di ikuti dalam penggunaan metode tugas atau resitasi,yaitu:
a.       Fase Pemberian Tugas
                  Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbangkan:
-          Tujuan yang akan dicapai.
-          Jenis tugas yang jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa yang ditugaskan tersebut
-          Sesuai dengan kemampuan siswa
-          Ada petunjuk/sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa
-          Sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut.
b.      Langkah pelaksanaan tugas
-          Diberikan bimbingan/pengawasan oleh guru
-          Diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja.
-          Diusahakan/dikerjakan oleh siswa sendiri,tidak menyuruh orang lain
-          Dianjurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang ia peroleh dengan baik dan sistematik .
c.       Fase mempertanggung jawabkan tugas.
Hal yang harus dikerjakan pada fase ini:
-          Laporan siswa baik lisan/tertulis dari apa yang telah dikerjakannya
-          Ada tanya jawab/diskusi kelas.
-          Penilaian hasil pekerjaan siswa baik dengan tes maupun nontes atau cara lainnya
Fase mempertanggung jawabkan tugas inilah yang disebut’’resitasi’’
Metode tugas dan resirasi mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan antara lain:
1.      Kelebihannya
a.       Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktivitas belajar individual maupun kelompok
b.      Dapat mengembangkan kemandirian siswa diluar pengawasan guru
c.       Dapat membina tanggung jawab dan disiplin siswa
d.      Dapat mengembangkan kreativitas siswa

2.      Kekurangannyan
a.       Siswa sulit dikontrol,apakah benar ia mengerjakan tugas ataukah orang lain
b.      Khusus untuk tugas kelompok,tidak jarang yang aktif mengerjakan dan menyelesaikannya adalah anggota tertentu saja,sednagkan anggota lainnya tidak berpartisipasi dengan baik
c.       Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu siswa
d.      Sering memberikan tugas yang monoton (tidak bervariasi) dapat menimbulkan kebosanan siswa

4.Metode Diskusi
    Metode diskusi adalah cara penyajian pelajar, dimana siswa-siswa dihadapkan kepada suatu masalah yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama.
   Teknik diskusi adalah salah satu teknik belajar mengajar yang dilakukan oleh seorang guru disekolah. Didalam diskusi ini proses belajar mengajar terjadi, dimana interaksi antara dua atau lebih individu yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah dpat terjadi juga semuanya aktif, tidak ada yang passif sebagai pendengar saja. Metode diskusi ada kelebihan dan kekurangannya, diantaranya adalah:
a.       Kelebihan metode diskusi
1. Merangsang kretifitas anak didik dalam bentuk ide, gagasan, prakarsa, dan terobosan baru dalam pemecahan suatu masalah.
2. Mengembangkan sikap menghargai pendapat orang lain
3. memperluas wawasan
4. memina untuk terbiasa musyawarah untuk mufakat dalam memecahkan suatu masalah.
            b. Kekurangan metode diskusi
                        1. pembicaraan terkadang menyimpang, sehingga memerlukan waktu yanpanjang
                        2. tidak dapat dipakai pada kelompok yang besar
                        3. peserta mendapat informasi yang terbatas
        4. mungkin dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara atau ingin menonjolkan diri
                   5. Metode Sosiodrama
                 Metode sosiodrama dan role playing dapat dikatakan sama artinya, dan dalam pemakaiannya sering disilih gantikan. Sosiodrama pada dasarnya mendramatisasikan tingkah laku dalam hubungannya dengan masalah sosial.
     Tujuan yang diharapkan dengan penggunaan metode sosiodrama antara lain adalah:
a.Agar siswa dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain
b.Dapat belajar bagaimana membagi tanggung jawab
c. Dapat belajar bagaimana mengambil keputusan dalam situasi kelompok secara spontan
d. Merangsang kelas untuk berpikir dan memecahkan masalah
    
     Petunjuk guna menggunakan metode sosiodrama adalah :
a.    Tetapkan dahulu masalah-masalah sosial yang menarik perhatian siswa untuk dibahas
b.    Ceritakan kepada kelas(siswa) mengenai isi dar masalah-masalah dalam konteks cerita tersebut
c.    Tetapkan siswa yang dapat atau yang bersedia untuk memainkan peranannya didepan kelas
d.   Jelaskan kepada pendengar mengenai peranan mereka pada waktu sosiodrama sedang berlangsung
e.    Beri kesempatan kepada para pelaku untuk berunding beberapa menit sebelum mereka memainkan peranannya
f.     Akhiri sosiodrama pada waktu situasi pembicaraan mencapai ketegangan
g.    Akhiri sosiodrama dengan diskusi kelas untuk bersama-sama memecahkan masalah persoalan yang ada pada sosiodrama tersebut
h.    Jangan lupa menilai hasil sosiodrama tersebut sebagai bahan pertimbangan lebih lanjut

Metode sosiodrama selain mempunyai beberapa kelebihan, juga mempunyai beberapa kekurangan sebagai berikut :
a.       Kelebihan metode sosiodrama
1.                        Siswa  melatih dirinya untuk melatih,memahami, dan mengingat isi bahan yang akan didramakan. Sebagai pemain harus memahami, menghayati isi cerita secara keseluruhan , terutama untuk materi yang harus diperankannya. Dengan demikian, daya ingatan siswa harus tajam dan tahan lama
2.                        Siswa akan terlatih untuk berinisiatif dan berkreatif. Pada waktu bermain drama para pemain dituntut untuk mengemukakan pendapatnya sesuai dengan waktu yang tersedia.
3.                        Bakat yang terdapat pada siswa dapat dipupuk sehingga dimungkinkan akan muncul atau tumbuh bibit seni drama dari sekolah. Jika seni rama mereka dibina dengan baik kemungkinan besar mereka akan menjadi pemain yang baik kelak
4.                        Kerja sama antar pemain dapat ditumbuhkan dan dibina dengan sebaik-baiknya
5.                        Siswa memperoleh kebiasaan untuk menerima dan membagi tanggung jawab dengan sesamanya
6.                        Bahasa lisan siswa dapat dibina menjadi bahasa yang baik agar mudah dipahami orang lain
                        b.Kekurangan metode Sosiodrama
1.Sebagian besar anak yang tidak ikut bermain drama mereka menjadi kurang kreatif
2.Banyak memakan waktu, baik waktu persiapan dalam rangka pemahaman isi bahan pelajaran maupun pada pelaksanaan pertunjukan
3.Memerlukan tempat yang cukup luas, jika tempat bermain sempit menjadi kurang bebas
4.Sering kelas lain terganggu oleh suara pemain dan para penonton yang kadang-kadang bertepuk tangan dan sebagainya 
6. Metode Demosntrasi
       Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukan kepada siswa suatu proses, situasi, atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya ataupun tiruan, yang sering disertai dengan  penjelasan lisan. Dengan metode demonstrasi, proses penerimaan siswa terhadap pelajaran akan lebih berkesan secara mendalam, sehingg membentuk pengertian dengan baik dan sempurna. Juga siswa dapat mengamati dan memperhatikan apa yang diperlihatkan selama pelajaran berlangsung.
       Metode demostrasi baik digunakan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang hal-hal yang berhubungan dengan proses mengatur sesuatu, proses membuat sesuatu, proses bekerjanya sesuatu, proses mengerjakan sesuatu atau mengunakannya, komponen-komponen yang membentuk sesuatu, membandingkan suatu cara dengan cara lain, dan untuk mengetahui atau melihat kebenaran sesuatu. Metode demonstrasi mempunyai kelebihan dan kekurangannya sebagai berikut :
a.       Kelebihan metode demonstrasi
1.      Dapat membuat pengajaran menjadi lebih jelas dan lebih kongkret, sehingga menghindari verbalisme(pemahaman secara kata-kata atau kalimat)
2.      Siswa lebih mudah memahami apa yang dipelajari
3.      Proses pengajaran lebih menarik
4.      Siswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan, dan mencoba melakukannya sendiri
b.      Kekurangan metode demonstrasi
1.      Metode ini memerlukan keterampilan guru secara khusus, karena tanpa ditunjang dengan hal itu pelaksanaan demonstrasi akan tidak efektif
2.      Fasilitas seperti peralatan, tempat dan biaya yang memadai tida selalu tersedia dengan baik
3.      Demonstrasi memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang disamping memerlukan waktu yang cukup panjang, yang mungkin terpaksa mengambil waktu atau jam pelajaran lain
7. Metode Problem Solving
            Metode problem solving(metode pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar,tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebagai problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya yang dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan. Penggunaan metode ini dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut
a.       Adanya masalah yang jelas untuk dipecahkan. Masalah ini harus tumbuh dari siswa sesuai dengan taraf kemampuanya.
b.      Mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut. Misalnya,dengan jalan membaca buku-buku,meneliti,bertanya.berdiskusi,dan lain-lain
c.       Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut. Dugaan jawaban ini tentu sja didasarkan kepada data yang telah diperoleh,pada langkah kedua di atas
d.       Menguji kebenaran jawaban sementara tersebut. Dalam langkah ini siswa harus berusaha memecahkan masalah sehingga betul-betul yakin bahwa jawaban tersebut betul-betul cocok. Apakah sesuai dengan jawaban sementara atau sama sekali tidak sesuai. Untuk menguji kebenaran jawaban ini tentu saja diperlukan metode-metode lainnya sperti demonstrasi,tugas diskusi,dan lain-lain.
e.        Menarik kesimpulan. Artinya siswa harus smapai kepada kesimpulan terakhir tentang jawaban dari masalah tadi.
Catatan:     Metode problem solving akan melibatkan banyak kegiatan sendiri dengan bimbingan dari para pengajar.
      Metode problem solving mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai berikut:
1.      Kelebihan Metode Problem Solving
a.       Metode ini dapat membuat pendidikan di sekolah menjadi lebih relevan dengan kehidupan,khususnya dengan dunia kerja
b.      Proses belajar mengajar melalui pemecahan masalah dapat membiasakan para siswa menghadapi dan memecahkan masalah secara terampil,apabila menghadapi permasalahan dalam kehidupan dalam keluarga,bermasyarakat,dan bekerja kelak,suatu kemampuan yang sangat bermakna bagi kehidupan manusia.
c.       Metode ini merangsang pengembangan kemampuan berfikir siswa secara kreatif dan menyeluruh,karena dalam proses belajarnya,siswa banyak melakukan mental dengan menyeroti permasalahan dari berbagai segi dalam rangka mencari pemecahan.
2.      Kekurangan Metode Problem Solving
a.       Menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitanya sesuai dengan tingak berfikir siswa,tingkat sekolah dan kelasnya serta pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki siswa,sangat memerlukan kemampuan dan keteraman kelasnya serta pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki siswa,sangat memerlukan kemampuan dan keteramapilan guru. Sering orang beranggapan keliru bahwa metode pemecahan masalah hanya cocok untuk SLTP,SLTA,dan PT saja. Padahal, untuk siswa SD sederajat juga bisa dilakukan dengan tingkat kesulitan permasalahan yang sesuai dengan taraf kemampuan berfikir anak.
b.      Proses belajar mengajar dengan  menggunakan metode ini sering m sering memerlukan waktu yang cukup banyak dan sering  terpaksa mengambil waktu pelajaran lain.
c.       Menhgubah kebiasaan siswa belajar dengan mendengarkan dan menerima informasi dari guru menjadi belajar dengan banyak berfikir memecahkan permasalahan sendiri atau kelompok, yang kadang-kadang memerlukan berbagai sumber  belajar, merupakan kesulitan tersendiri bagi siswa.
8. Metode Karyawisata
            kadang-kadang dalam proses belajar mengajar siswa perlu di ajak keluar sekolah, untuk meninjau tempat tertentu atau objek yang lain. Hal ini bukan sekedar rekreasi, tetapi untuk belajar atau memperdalam pelajaran nya dengan melihat kenyataan. Karena itu, dikatakan teknik karyawisata, adalah cara mengajar yang di laksanakan dengan mengajar siswa ke suatu tempat atau objek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari/menyelidiki sesuatu seperti meninjau pabrik sepatu, suatu bengkel mobil,took serba ada, suatu peyernakan atau perkebunan,museum, dan sebagainya. Banyak istilah yang di gunakan, tetapi maksudnya sama dengan karya wisata, seperti widya wisata, study –tour, dan ada pula dalam waktu beberapa hari atau waktu panjang
            Metode karyawisata mempunyai beberapa kelebihan dan kekuranagnan:
a.       Kelebihan Metode Karyawisata
1.      Karya wisata memiliki prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran.
2.      Membuat apa yang di pelajari di sekolah lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan di masyarakat.
3.      Pengajaran serba ini dapat lebih merangsan kreatifitas siswa.
4.      Informasi sebagai bahan pelajaran lebih luas dan actual.
b.      Kekurangan Metode Karyawisata
1.      Fasilitas yang diperlukan dan biaya yang dipergunakan sulit untuk disediakan oleh siswa ke sekolah.
2.      Sangat memerlukan persiapan atau perencanaan yang matang.
3.      Menentukan koordinasi dengan guru serta bidang study Lain akan terjadi tumpang tindih waktu dan kegiatan selama karyawisata.
4.      Dalam karya wisata sring unsure rekreasi menjadi lebih prioritas dari pada tujuan utama, sedang unsure studynya menjadi terabaikan.
5.      Sulit mengatur siswa yang banyak dalam perjalanan dan mengarahkan mereka kepada kegiatan studi yang menjadi permasalahan.  
                     9. metode Tanya jawab     
                                    Metode Tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus di jawab, terutamaq dari guru kepada siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada guru.
                                   Metode Tanya jawab adalah yang tertua dan banyak digunakan dalam proses pendidikan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun sekolah.
                                  Metode Tanya jawab memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan sebagai berikut.
a.       Kelebihan metode Tanya jawab
1.      Pertanyaan dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa, sekalipun keyika itu siswa sedang rebut, yang mengantuk kembali tegar dan hilang kantuknya
2.      Merangsang siswa untuk melatih dan mengembangkan daya piker, termasuk daya ingatan
3.      Mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat
b.      Kekurangan metode Tanya jawab
1.      Siswa merasa takut, apalagi bila guru kurang dapat mendorong siswa untuk berani, dengan menciptakan suasana yang tidak tegang, melainkan akrab.
2.      Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat berpikir dan mudah dipahami siswa
3.      Waktu sering banyak terbuang, terutama apabila siswa tidak dapat menjawabpertanyaan sampai dua atau tiga orang
4.      Dalam jumlah siswa yang banyak, tidak mungkin cukup waktu untuk memberikan pertanyaan kepada setiap siswa
                              10. metode latihan
                                        Metode latihan yang di sebut juga metode training, merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga sebagai sarana untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik. Selain itu, metode ini dapat juga digunakan untuk memperoleh sesuatu ketankasan, ketepatan, kesempatan dan keterampilan.
                                        Sebagai suatu metode yang di akui banyak kelebihan, juga tidak dapat di sangkal bahwa metode latihan mempunyai beberapa  kelemahan. Maka dari itu guru yang ingin mempergunakan metode ini kiranya tidak salah bila memahami karakteristik metode ini.
a.       Kelebihan metode latihan
1.      Untuk memperoleh kecakapan motorik, seperti menulis melafalkan huruf, kata-kata atau kalimat, membuat alat-alat, menggunakan alat-alat (mesin permainan atau atletik) dan terampil menggunakan peralatan  olahraga
2.      Untuk memperoleh kecakapan mental seperti  dalam perkalian, menjumlahkan, pengurangan, pembagian, tanda-tanda (simbo), dan sebagainya
3.      Untuk memperoleh kecakapan dalam bentuk asosiasi yang dibuat, seperti hubungan huruf-huruf dalam ejaan, penggunaan symbol, membaca peta, dan sebagainya
4.      Pembentukan kebiasaan yang dilakukan dan menambah ketepatan serta kecepatan pelaksanaan
5.      Pemanfaatan kebiasaan-kebiasaan yang tidak memerlukan konsentrasi dalam pelaksanaannya

6.      Pembentukan kebiasaan-kebiasaan membuat gerakan-gerakan yang kompleks, rumit, menjadi lebih otomatis
b.      Kelemahan metode latihan  
1.       menghambat bakat dan inisiatif siswa, karena siswa lebih banyak dibawa kepada penyesuaian di arahkan jauh dari pengertian.
2.      Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan.
3.      Kadang-kadang latihan yang dilaksanakan secara berulang-ulang merupakan hal yang monoton, mudah membosankan.
4.      Membentuk kebiasaan yang kaku, karena bersifat otomatis.
5.      Dapat menimbulkan verbalisme.
11. Metode ceramah
Metode ceramah adalah metode yang boleh dikatakan metode tradisional, karena sejak dulu metode ini telah di pergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses belajar mengajar. Meski metode ini lebih banyak menuntut keaktifan guru daripada anak didik, tetapi metode ini tetap tidak bisa di tinggalkan begitu saja dalam kegiatan pengajaran. Apalagi dalam pendidikan dan pengajaran tradisional, seperti di pedesaan, yang kekurangan fasilitas
            Cara mengajar dengan ceramah dapat dikatakan juga sebagai tekhnik kuliah, merupakan suatu cara mengajar yang digunakan untuk menyampaikan keterangan atau informasi atau uraian tentang suatu pokok persoalan serta masalah secara lisan
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa metode ceramah adalah cara penyajian pelajaran yang dilakukan guru dengan penuturan atau penjelasan lisan secara langsung terhadap siswa.
Metode ini mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangannya sebagai berikut :
a.       Kelebihan metode ceramah
1.      Guru mudah menguasai kelas
2.      Mudah mengorganisasikan tempat duduk/ kelas
3.      Dapat diikuti oleh jumlah siswa yang besar
4.      Mudah mempersiapkan dan melaksanakannya
5.      Guru mudah menerangkan pelajaran dengan baik
b.      Kelemahan metode ceramah
1.      Mudah menjadi verbalisme (pengertian kata-kata).
2.      Yang visual menjadi rugi, yang auditif  (mendengar)yang besar menerimanya
3.      Bila selalu digunakan dan terlalu lama, membosankan
4.      Guru menyimpulkan bahwa siswa mengerti dan tertarik pada ceramahnya, ini sukar sekali.
5.      Menyebabkan siswa menjadi pasif
D. Praktis Penggunaan Metode Mengajar
            Dalam praktiknya, metode mengajar tidak digunakan sendiri-sendiri, tetapi merupakan kombinasi dari beberapa metode mengajar. Berikut akan dikemukaakan kemungkinan kombinasi metode mengajar.
1.      C eramah, Tanya Jawab, dan Tugas
Mengingat ceramah banyak segi yang kurang menguntungkan, maka penggunaannya  harus didukung dengan alat dan media ataundengan metode lain. Karena itu, setelah guru menberikan ceramah, maka dipandang perlu untuk memeberikan kesempatan kepada siswanya mengadakan Tanya jawab. Tanya  jawab ini di perlukan untuk mengetahui  pemahaman siswa terhadap apa yang telah di sampaikan guru melalui metode ceramah. Untuk lebih memantapkan penguasaan siswa terhadap bahan yang telah disampaikan, maka pada tahap selanjutnya siswa diberi tugas, misalnya membuat kesimpulan hasil ceramah, mengerjakan pekerjaan rumah, diskusi, dan sebagainya. Tabel 1 (lihat di halaman 99) adalah kegiatan yang mungkin dapat di laksanakan dari ketiga jenis metode tersebut.
2.      Ceramah,Diskusi,dan Diskusi
Penggunaan ketiga jenis mengajar ini dapat dilakukan diawali dengan memberikan kepada siswa tentang bahan yang akan di diskusikan oleh siswa, lalu memberikan masalah untuk di diskusikan. Kemudian di ikuti dengan tugas-tugas yang harus dilakukan siswa
3.      Ceramah,Demonstrasi, dan Eksperimen
            Penggunaan metode demonstrasi selalu diikuti dengan eksperimen. Apa pun yang didemonstrasikan, baik oleh guru maupun oleh siswa(yang dianggap mampu untuk melakukan demonstrasi), tanpa diikuti dengan eksperimen tidak akan mencapai hasil yang efektif. Dalam melaksanakan demonstrasi, seorang demonstrator menjelaskan apa yang akan didemonstrasikannya menjelaskan apa yang akan didemonstrasikannya (biasanya suatu proses ), sehingga semua siswa dapat mengikuti jalannya demonstrasi tersebut dengan baik.
4.      Ceramah, Sosiodrama, dan Diskusi
            Sebelum metode sosiodrama digunakan, terlebih dahulu harus diawali dengan penjelasan dari guru tentang situasi social yang akan didramatisasikan oleh para pemain/pelaku. Tanpa diberikan penjelasan, anak dididik tidak akan dapat melakukan peranannya dengan baik. Karena itu, ceramah mengenai masalah social yang akan didemonstrasikan penting sekali di laksanakan sebelum melakukan sosiodrama




1 komentar: