KONSEP STRATEGI
I.BELAJAR MENGAJAR
A. Pengertian
Strategi Belajar Mengajar
Secara
umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk
bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditntukan. Dihubungkan dengan
belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru
anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan
yang telah digariskan.
Ada
empat strategi dasar dalam belajar mengajar yang meliputi hal-hal berikut:
1. Mengidentifikasi
serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan
kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan
2. Memilih
system pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup
masyarakat.
3. Memilih
dan menetakan prosedur, metode, dan teknik belajar mengajar yag dianggap paling
tepat dan efektif sehinggah dapat dijadikan pegangan oleh guru dalam menunaikan
kegiatan mengajarnya.
4. Menetapkan
norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau criteria serta standar
keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam melakukan
evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya akan dijadikan umpan
balik buat penyempunaan system instruksional yang bersangkutan secara
keseluruhan.
Dari
uraian di atas tergambar bahwa ada empat masalah pokok yang sangat penting yang
dapat dan harus dijadikan pedoman buat pelaksanaan kegiatan belajar mengajar
agar berhasil sesuai dengan yang diharapkan.
Pertama,
spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku yang bagaimana diinginkan
sebagai hasil belajar mengajar yang dilakukan itu. Disini terlihat apa yang
dijadikan sebagai sasaran dari kegiatan belajar mengajar. Sasaran yang dituju
harus jelas dan terarah. Oleh karena itu, tujuan pengajaran yang dirumuskan
harus jelas dan konkret, sehingga mudah dipahami oleh anak didik. Bila tidak,
maka kegiatan belajar mengajar tidak punya arah dan tujuan yang pasti. Akibat
selanjutnya perubahan yang diharapkan terjadi pada anak didik pun sukar
diketahui, karena penyimpangan-penyimpangan dari kegiatan belajar mengajar.
Karena itu, rumusan tujuan yang operasional dalam belajar mengajar mutlak
dilakukan oleh guru sebelum melakukan tugasnya di sekolah.
Kedua,
memilih cara pendekatan belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif
untuk mencapai sasaran. Bagaimana cara guru memandang suatu persoalan, konsep,
pengertian dan teoti apa yang guru gubakan dalam memecahkan suatu kasus, akan
mempengaruhi hasilnya. Satu masalah yang dipelajari oleh dua orang dengan
pendekatan yang berbeda, akan menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang tidak
sama. Norma-norma social seperti baik, benar, adil, dan sebagainya akan
melahirkan kesimpulan yang berbeda dan bahkan mungkin bertentangan bila dalam
cara pendekatannya menggunakan berbagai disiplin ilmu. Pengertian konsep dan
teori ekonomi tentang baik, benar atau adil, tidak sama dengan baik, benar atau
adil menurut pengertian konsep dan teori antropologi. Juga akan tidak sama apa
yang dikatakan baik, benar atau adil kalau seorang guru menggunakan pendekatan
pendekatan agama. Karena pengertian konsep dan teori agama mengenai baik, benar
atau adil itu jelas berbeda dengan konsep ekonomi maupun antropologi. Begitu
juga halnya dengan cara pendekatan yang digunakan terhadap kegiatan belajar
mengajar. Belajar menurut teori asosiasi, tidak sama dengan pengetian belajar
menurut teori problem solving. Suatu topic tertentu dipelajari atau dibahas
denngan cara menghafal, akan beda hasilnya kalau dipelajari atau dibahas dengan
teknik diskusi atau seminar. Juga akan lain hasilnya andaikata topic yang sama
dibahas dengan menggunakan kombinasi berbagai teori.
Ketiga,
memilih dan menetapkan prosedur, metode dan teknik belajar mengajar yang
dianggap paling tepat dan efektif. Metode atau teknik penyajian untuk
memotivasi anak didik agar mampu menerapkan pengetahuan dan pengalamannya untuk
memecahkan masalah, berbeda dengan cara atau metode supaya anak didik terdorong
dan mampu berfikir bebas dan cukup keberanian untuk mengemukakan pendapatnya
sendiri. Perlu dipahami bahwa suatu metode mungkin hanya cocok dipakai untuk
mencapai suatu tujuan tertentu. Jadi dengan sasaran yang berbeda, guru
hendaknya jangan menggunakan teknik penyajian yang sama. Bila beberapa tujua
yang ingin diperoleh, maka guru dituntut untuk memiliki kemampuan tentang
penggunaan berbagai metode atau mengombinasikan beberapa metode yang relevan.
Cara penyajian yang satu mungkin lebih terfokus pada peranan guru atau alat-
alat pengajaran seperti buku, atau mesin computer misalnya. Ada pula metode
yang lebih berhasil bila diapakai buat anak didik dalam jumlah yang terbatas.
B. Klafikasi
Strategi Belajar Mengajar
Menurut Tabrani
Rusyan dkk., terdapat berbagai masalah sehubungan dengan strategi belajar
mengajar yang secara keseluruhan diklasifikasikan seperti berikut : 1. Konsep
dasar strategi belajar mengajar, 2. Sasaran kegiatan belajar, 3. Belajar
mengajar sebagai sebagai system, 4. Hakikat proses belajar, 5. Entering
behavior siswa, 6. Pola- pola belajar siswa. 7. Memilih system belajar
mengajar, 8. Pengorganisasian kelompok belajar.
Klasifikasi
suatu sampai Sembilan sebagaimana disebutkan diatas diuraikan secara singkat
satu persatu berikut ini.
1. Konsep
Dasar Strategi Belajar Mengajar
Seperti telah diuraikan
pada pembahasan sebelumnya, bahwa konsep dasar strategi belajar mengajar ini meliputi
hal- hal : a) menetapkan spesifikasi dan
kualifikasi perubahan tingkah laku, b) menentukan pilihan berkenaan dengan
pendekatan terhadap masalah belajar mengajar, c) memilih prosedur, metode dan
teknik belajar mengajar dan d) menerapkan norma dan criteria keberhasilan
kegiatan belajar mengajar.
2. Sasaran
Kegiatan Belajar Mengajar
Setiap
kegiatan blajar mengajar mmpunyai sasaran atau tujuan. Tujuan itu bertahap dan
berjenjang mulai dari yang sangat operasional dan konkret, yakni Tujuan
Instruksional Khusus dan Tujuan Instruksional Umum, tujuan nasional, sampai
kepada tujuan yang sangat bersifat universal.
Persepsi guru atau persepsi anak didik mengenai sasaran akhir
kegiatan belajar mengajar akan mempengaruhi persepsi mereka sasaran antara serta sasaran kegiatan. Sasarn
itu harus diterjemahkan kedalam ciri- cirri perilaku kepribadian yang
didambakan. Pada tingkat sasaran atau tujuan yang universal, manusia yang
didamkan tersebut harus memiliki kualifikasi : a) pengemabangan bakat secara
optimal, b) hubgungan antar manusia, c) efisiensi ekonomi , dan d ) tanggung jawab selaku warga
Negara.
3. Belajar
Mengajar sebagai Suatu Sistem
Belajar mengajar selaku
suatu system instruksional mengacu kepada pengertian sebagai seperangkat
komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan. Selaku
suatu system, belajar mengajar meliputi suatu komponen antara lain tujuan,
bahan, siswa, guru, metode, situasi, dan evaluasi. Agar tujuan ini tercapai,
semua komponen yang ada harus diorganisasikan sehingga antarsesama, komponen terjadi kerja sama.
Karena itu, guru tidak boleh hanya memperihatikan komponen- komponen tertentu
saja misalnya metode.
4. Hakikat
Proses Belajar Mengajar
Belajar adalah proses
perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Artinya tujuan kegiatan
adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengeahuan, keterampilan
maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi. Kegiatan
belajar mengajar seperti mengorganisasi pengalaman belajar, kesemuanya termasuk
dalam cakupan tanggung jawab guru. Jadi, hakikat belajar adalah perubahan.
5. Entering
Behavior Siswa
Hasil kegiatan belajar
mengajar tercermin dalam perubahan perilaku, baik secara material- subtansial,
struktual- fungsional, maupun secara behavior. Yang dipersoalkan adalah
kepastian bahwa tingkat prestasi yang dicapai siswa apakah benar merupakan
hasil kegaiatan belajar mengajar yang bersangkutan. Untuk kepastiannya
seharusnya guru mengetahui tentang karakteristik perilaku anak didik saat
meereka mau masuk sekolah dan mulai dengan kegiatan belajar mengajar
dilangsungkan, tingkat dan jensi karakteristik perilaku anak didik yang telah
dimilikinya ketika mau mengikuti kegiatan belajar mengajar. Itulah yang
dimaksudkan dengan entering behavior siswa.
II. POLA- POLA BELAJAR SISWA
Robert M. Gagne
membedakan pola- pola belajar siswa kedalam delapan tipe, diamana yang satu ini
merupakan prasyarat bagi yang lainnya yang lebih tinggi hierarkinya. Delapan
tipe belajar dimaksudkan adalah : 1) Signal learning (belajar isyarat), 2)
stimulus- response learning ( belajar stimulus- respons), 3 Chaining (rantai
atau rangkaian0, 4) Verbal association (assosiasi verbal), 5) Discrimation
learning (belajar kriminasi), 6) Consept learning (belajar konsep), 7) rule
learning (belajar aturan), dan 8 ) problem solving (memecahkan masalah).
Kedelapan tipe
belajar sebagaimana disebutkan diatas akan diuraikansatu presatu secara singkat
dan jelas sebagai berikut :
a. Belajar
tipe 1 : Signal Learning (Belajar
Isyarat)
Belajar
tipe ini merupakan tahap yang paling dasar. Jadi, tidak menuntut persyaratan.
Jadi, tidak menuntut persyaratan, namun merupakan hierarki yang harus dilalui
untuk tipe belajara yang paling tinggi. Signal learning dapat diartikan sebagai
proses penguasaan pola-pola dasar perilaku bersifat involuntary (tidak sengaja
dan tidak disadari tujuannya ). Dalam tipe ini terlibat terlibat aspek reaksi
emosional di dalamnya. Kondisi yang diperlukan buat berlangsungnya tipe belajar
ini, adalah diberikannya stimulus (signal) secara serempak, perangsang-
perangsang tertentu secara serempak, perangsang- perangsang tertentu secara
berulang kali.
b.
Belajar tipe 2: Stimulus- Respons
Learning (Belajar Stimulus Respons).
Bila
tipe diatas digolongkan dalam jenis classical condition,maka tipe belajar 2 ini
termasuk kedalam instrumental conditioning (Kinble 1961) atau belajar dengan
trial and error (mencoba-coba ). Proses belajar bahasa pada anak- anak
merupakan proses yang serupa dengan ini. Kondisi yang diperlukan untuk berlangsungnya
tipe belajar ini adalah factor inforcement. Waktu antara stimulus pertama dan
berikutnya amat penting. Makin singkat jarak S-R dengan S-R berikutnya, semakin
kuat reinforcement.
c.
Belajar tipe 3 : Chainng (Rantai
atau Rangkaian)
Chaining
adalah belajar menghubungkan satuan ikatan S-R (stimulus- respons) yang satu
dengan yang lain. Kondisi yang diperlukan bagi berlangsungnya tipe belajar ini
antara lain, secara internal anak didik sudah harus terkuasai sejumlah satan
pola S-R, baik psikomotorik maupun verbal. Selain itu prisnip kesinambungan, pengulangan, dan
reinforcement tetap penting bagi berlangsungnya proses chaining.
d.
Belajar tipe 4 : Verbal Association
(Assosiasi verbal )
Baik
chaining maupun verbal association, kedua tipe belajar ini, setaraf, yaitu
belajar menghubungkan satuan ikatan S- R yang satu dengan yang lain. Bentuk
verbal association yang paling sederhana adalah bila diperlihatkan suatu bentuk
geometris, dan si anak dapat mengatakan “bujur sangkar”, atau mengatakan “itu
bola saya”, bila dilihatnya bolanya. Sebelumnya ia harus membedakan bentuk
geometris, atau mengenal ‘’bola saya dan itu. Hubungan itu terbentuk, bila
unsurnya terdapat dalam urutan tertentu, yang satu segera mengikuti yang satu
lagi. (contiguity).
e.
Belajar tipe 5 : Verbal Discrimination
Learning (Belajar Diskriminasi)
Discrimination
learning atau belajar mengadakan pembeda. Dalam tipe ini anak didik mengadakan
seleksi dan pengujian diantara dua perangsang atau sejumlah stimulus yang
diterianya, kemudian memilih pola-pola respons yang dianggap paling sesuai.
Kondisi utama bagi berlangsungnya proses belajar ini adalah anak didik sudah
mempunyai kemahiran melakukan chaining dan association serta pengalaman (pola
S-R).
f.
Belajar Tipe 6 : Concept Learning
(Belajar Konsep)
Concept
learning adalah belajar penegrtian. Dengan berdasarkan kesamaan cirri-ciri dari
sekumpulan stimulus dan objek- objeknya , membentuk suatu pengertian atau
konsep, kondisi utama yang diperlukan adalah menguasai kemahiran diskriminasi
dan proses kogniitif fundamental sebelumnya.
g.
Belajar Tipe 7 : Rule Learning (Belajar
Aturan)
Rule
learning belajar membuat generalsasi, hokum dan kaidah. Pada tingkat ini siswa
belajar mengadakan kombinasi berbagai konsep dengan mengoperasikan kaidah-
kaidah logika formal (induktif, dedukatif, analiss, sintesis, asosiasi, diferensiasi,
komparasi, dn kuasilitas ) sehingga anak didik dapat menemukan konklusi
tertentu yang mungkin selanjutnya dapat dipandang sebagai “rule “ prinsi,
dalil, aturan, hokum, kaidah, dan sebagainya.
h.
Belajar tipe 8 : Problem Solving (
pemecahan masalah)
Problem
solving adalah belajar memecahkan masalah. Pada tingkat ini para anak didik
belajar merumuskan memecahkan masalah memberikan respons terhadap rangsangan
yang menggambarkan atau membangkitkan situasi problematic, yang mempergunakan
berbagai kaidah yang telah dikuasainya.
III.
METODE DAN ALAT
A.
Metode
Metode dan alat adalah suatu cara yang
dipergunakan untuk mencapai tujuan yang teah ditetapkan. Dalan kegiatan belajar
menagajar, metode diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai
dengan tujuan yang ingin dicapai setelah
pengajaran berakhir. Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya bila
tidak menguasai satu pun metode mengajar yang dirumuskan dan dikemukakan para
ahli psikologi dan pendidikan (Syaiful Bahri Djamarah, 1991 : 72)
Dalam
kegiatan belajar mengajar, guru tidak harus terpaku dengan menggunakan satu
metode, tetapi guru sebaiknya menggunakan metode yang bervariasi agar jalannya
pengajaran tidak membosankan, tetapi menarik perhatian anak didik. Oleh karena
itu, pemilihan dang penggunaan metode
yang bervariasi tidak selamanya menguntungkan bila guru mengabaikan factor yang
mempengaruhi penggunaanya. Prof. Dr. Winam Surakhmad,M. SC. Ed. Mengemukakan
lima macam factor yang mempengruhi penggunaan metode megajar sebagai berikut :
a. Tujuan
yang berbagai- bagai jenis dan fungsinya
b. Anak
didik yang berbagai- baga tingkat kematangannya
c. Situasi
yang berbagai-bagai keadaannya
d. Fasilitas
yang berbagai-bagai kualitas dan kuantitasnya
B.
Alat
Alat adalah segala Sesuatu yang
dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Sebagai segala sesuatu
yang dapat digunaka dalam mencapai tujuan pengajaran, alat mempunyai fungsi,
yang sebagai perlengkapan, alat sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai
tujuan, dan alat sebagai tujuan (Dr. Ahmad D. Marimba, 1989:51)
Alat dapat dibagi menjadi dua
macam, yaitu alat dan alat bantu pengajaran. Yang dimaksud dengan alat adalah
berupa suruhan, perintah, larangan, dan sebagainya. Sedangkan alat bantu
pengajaran adalah berupa globe, papan tulis, batu tulis, batu kapur, gambar,
diagram, slide video, dan sebagainya. Ahli lain membagi alat pendidikan dan
pengajaran menjadi alat material dan non material.
Karenanya, ada kecendrungan dari
pihak guru untuk memberikan bahan
pelajaran sebanyak mungkin dengan memberikan penjelasan yang mendekati
realisasi kehidupan dan pengalaman anak didik
Sebagai alat bantu dalam pendidikan
dan penagajaran, alat material (audiovisual) mempunyai sifat sebagai berikut :
a. Kemampuan
untuk meningkatkan persepsi
b. Kemampuan
untuk meningkatkan pengertian
c. Kemampuan
untuk meningkatkan transper belajar
d. Kemampuan
untuk memberikan penguatan atau pengetahuan hasil yang dicapai.
e. Kemampuan
untuk meningkatkan retensi
IV.
EVALUASI
Evaluasi
Istilah evaluasi berasal dari bahasa Inggris, yaitu
evaluation Dalam buku Essentialsof
Educational Evaluation karangan Edwar Wand dan Gerald W. Brown. Dikatakan
bahwa Evaluation refer to the act or prosess to determining the value of
something. Jadi, menurut Wand dan Brown, evaluasi adalah suatu tindakan atau
suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Sesuai dengan pendapat di
atas, maka menurut pendidikan dapat diartikan sebagai tindakan atau suatu
proses untuk menentukan nilai sebagai sesuatu dalam dunia pendidikan atau
segala yang sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan.
Berbeda dengan pendapat tersebut, Ny. Drs. Roestiyah
N.K(1989: 85) mengatakan bahwa evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data luas-
luasnya, sedalam-dalamnnya, yang bersangkutan dengan kapabilitas siswa guna
mengetahui sebab akibat dan hasi belajar system yang dapat mendorong dan
mengembangkan kemampuan belajar.
Dari kedua pengertian evaluasi tersebut, dapat diketahui
tujuan penggunaan evaluasi. Tujuan evaluasi dapat dilihat dari dua segi, yaitu
tujuan umum dan tujuan khsus. L. Pasar Ibu dan Sinmanjuntak menegaskan bahwa :
a.
Tujuan umum dari evaluasi adalah :
1. Mengumpulkan
data- data yang membuktikan taraf kemajauan murid dalam mencapai tujuan yang
diharapkan.
2. Memungkinkan
pendidik/ guru menilai pengalaman yang didapat.
3. Menilai
metode mengajar yang dipergunakan.
b.
Tujuan khusus dari evaluasi adalah :
1. Merangsang
kegiatan siswa
2. Menemukan
sebab- sebab kemajuan atau kegagalan.
3. Memberikan
bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan, perkembangan dan bakat siswa yang
bersangkutan.
4. Memperoleh
bahan laporan tentang perkembangan siswa yang diperlukan orangtua dan lembaga
pendidikan.
5. Untuk
memperbaiki mutu pelajaran/ cara belajar dan metode mengajar ( Abu Ahmad dan
Widodo Supriyana, 1991:189)
Ketik eveluasi dapat memberikan manfaat
bagi guru dan siswa,maka evaluasi mempunyai fungsi sebagai berikut:
a. Untuk
memberikan umpan balik kepada guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses
belajar mengajar, serta mengadakan perbaikan program bagi murid
b. Untuk
memberikan angka yang tepat tentang kemajuan atau hasil belajar dari setiap
murid.
c. Untuk
menentukan murid didalam situasi belajar mengajar yang tepat, sesuai dengan
tingkat kemampuan yang dimiliki oleh murid.
d. Untuk
mengenal latar belakang murid yang mengalami kesulitan- kesulitan belajar,
nantinya dipergunakan sebagai dasar
dalam pemecahan kesulitan- kesulitan belajar yang timbul.
V.
BERBAGAI PENDEKATAN
DALAM BELAJAR MENGAJAR
Dalam kegiatan belajar mengajar
yang berlangsung telah terjadi interaksi yang bertujuan. Guru dan anak didiklah
yang menggerakkannya. Interaksi yang bertujuan itu disebabkan gurulah yang
memaknainya dengan menciptakan lingkunagn yang bernilai edukatif demi
kepentingan anak didik dalam belajar. Guru ingin memberikan layanan yang
terbaik bagi anak didik, dengan menyediakan lingkungan yang menyenanngkan menggairahkan. Guru berusaha menjdi
pembimbing yang baik dengan peranan yang arif dan bijaksana, sehingga tercipta
hubungan dua arah yang harmonis antara dua guru dengan anak didik.
Ketika kegiatan belajar mengajar
itu berproses, guru harus dengan ikhlas dalam bersikap dan berbuat ,serta mau
memahami anak didiknya dengan segala konsekuensinya.semua kendala yang terjadi
dan dapat menjadi penghambat jalannya proses belajar mengajar,baik yang
berpangkal dari perilaku anak didik maupun yang bersumber dari luar diri anak
didik,harus guru hilangkan,dan bukan membiarkannya.Karena keberhasilan belajar
mengajar lebih banyak ditentukan oleh guru dalam mengolola kelas.
A. Pendekatan individual
Di
kelas ada sekolompok anak didik.mereka duduk di kursi masing-masing.mereka
berkolompok dari dua sampai lima orang.Di depan mereka ada meja untuk membaca dan menulis atau untuk meletakkan
fasilitas belajar.Mereka belajar dengan gaya yang berbeda-beda.Perialaku mereka
juga bermacam-macam.Cara mengemukakan pendapat,cara berpakaian,daya serap
tingkat kecerdasan,dan sebagainya,selalu ada variasinya.Masing-masing anak
didik memang mempunyai karakterteristik tersendiri yang berbeda dari satu anak
didik dengan anak didik lainnya.
B. Pendekatan kelompok
Dalam
kegiatan belajar mengajar terkadang ada juga guru yang menggunakan pendekatan lain,yakni
pendekatan kelompok.Pendekatan kelompok memang suatu waktu diperlukan dan perlu
digunakan untuk membina dan mengembangkan sikap social anak didik.Hal ini
disadari bahwa anak didik adalah sejenis makhluk homo socius,yakni makhluk yang berkecenderungan untuk hidup
bersama.
Keakraban
kelompok ditentukan oleh beberapa factor,yaitu :
1. Perasaan
diterima atau disukai teman-teman;
2. Tarikan
kelompok;
3. Teknik
pengolompoka oleh guru;
4. Partisipasi/keterlibatan
dalam kelompok;
5. Penerimaan
tujuan kelompok dan persetujuan dalam mencapainya;
6. Stuktur
dan sifat-sifat kelompok.sdang sifat-sifat kelompok itu adalah ;
a. Suatu
multi personalia dengan tingkatan keakraban tertentu.
b. Suatu
system interaksi.
c. Suatu
organisasi atu struktur.
d. Merupakan
suatu motif tertentu dan tujuan bersama.
e. Merupakan
suatu kekuatan atau standar perilaku tertentu.
f. Pola
perilaku yang dapat diobservasi yang disebut kepribadian.
C. Pendekatan bervariasi
Ketika
guru dihadapkan kepada permasalahan anak didik yang bermasalah,maka guru akan
berhadapan dengan permasalahan anak didik yang bervariasi.setiap masalah yang
dihadapi oleh anak didik tidak selalu sama,terkadang ada perbedaan.
D. Pendekatan edukatif
Apapun
yang guru lakukan dalam pendidikan dan pembelajaran dengan tujuan untuk
mendidik bukan karna motif-motif lain, seperti dendam,gengsi,ingin ditakuti,
dan sebagainya.
Selain
berbagai pendekatan yang disebutkan di depan,ada lagi pendekatan-pendekatan
lain.Berdasarkan kurikulum atau garis-garis besar program pengajaran
(GBPP)pendidikan agama islam SLTP tahun 1994 disebutkan lima macam pendekatan
untuk pendidikan agama islam, yaitu :
a.
Pendekatan
pengalaman
experience is the best
teacher,pengalaman adalah guru yang terbaik,pengalaman adalah guru bisu yang
tidak pernah marah.Pengalaman adalah guru yang tanpa jiwa,namun selalu
dicari oleh siapapun juga.Belajar dari
pengalaman adalah lebih baik daripada sekedar bicara,dan tidak pernah berbuat
sama sekali.belajar adalah kenyataan
yang ditunjukkan dengan kegiatan fisik.Karena itu,the proses of learning is
doing,reacting,undergoing,experiencing,the product of learning are all achieved by the learner
throught his own activity.(H.C Witherington W.H Burton,1998:57)
b.
Pendekatan
pembiasaan
Pembiasaan adalah alat pendidikan.Bagi
anak yang masih kecil,pembiasaan ini sangat penting.Karena dengan pembiasaan
itulah akhirnya suatu aktivitas akan
menjadi milik anak di kemudian hari.Pembiasaan yang baik akan membentuk suatu
sosok membentuk sosok manusia yang berkepribadian yang buruk pula.Begitulah
biasanya yang terlihat dan yang terjadi pada diri seseorang.Karenanya,di dalam
kehidupan bermasyarakat,kedua kepribadiaan yang bertentangan ini selalu ada dan
tidak jarang terjadi konflik diantara mereka.
c.
Pendekatan
emosional
Emosi adalah gejala
kejiwaaan yang ada di dalam diri seseorang.Emosi berhubungan dengan masalah
perasaan.Seseorang yang mempunyai perasaan pasti dapat merasakan sesuatu,bauk
perasaan jasmaniah maupun perasaan rohaniah.Perasaan rohaniah di dalamnya ada
perasaan intelektual,perasaan estetis,perasaan etis,perasaan social,dan
perasaan harga diri. Menurut Chaljiah Hasan (1994:39) merasa adalah aktualisasi
kerja dari hati sebagai materi dalam struktur
tubuh nanusiam,dan nerasa sebagai aktivis kejiwaan ini adalah suatu
pernyataan jiwa yang bersifat subjektif.Hal ini dilakukan dengan mengemukakan
suatu kesan senang atu tidak senang,dan umumnya tidak tergantung pada
pengamatan yang dilakukan oleh indra.
d.
Pendekatan
rasional
Manusia adalah makhluk
yang diciptakan oleh sang maha pencipta yaitu Allah SWT. Manusia adalah nakhluk
yang sempurna diciptakan.Manusia berbeda dengan mekhluk lainnya yang diciptakan
ole Tuhan.Perbedaannya terletak pada akal.Manusia mempunyai akal,sedangkan
makhluk lainnya seperti binatang dan sejenisnya tidak mempunyai akal.Jadi,hanya
manusialah yang dapat berpikir,sedangkan makhluk lainnya tidak dapat berpikir.
e.
Pendekatan
fungsional
Ilmu pengetahuan yang dipelajari oleh
anak di sekolah bukanlah hanya sekedar pengisi otak,tetapi diharapkan berguna
bagi kehidupan anak,baik sebagai individu maupun sebagai makhluk social.Anak
dapat memanfaatkan ilmunya untuk kehidupan sehari-hari sesuai dengan tingkat
perkenbangannya.Bahkan yang lebih penting adalah ilmu pengetahuan dapat
membentuk kepribadian anak.Anak dapat merasakan manfaat daroi ilmu yang
didapatnya di sekolah.Anak mendayagunakan daya guna dari suatu ilmu sudah
fungsional di dalam diri anak.
E. Pendekatan keagamaan
Pendidikan
dan pelajaran di sekolah tidak hanya memberikan satu atau dua macam mata
pelajaran,tetapi terdiri dari banyak mata pelajaran.Semua mata pelajaran itu
pada umumnya dapat dibagi menjadi mata pelajaran umum dan mata pelajaran
agama.Berbagia pebdekatan dalam pembahasan terdahulu dapat digunakan untuk
kedua jenis mata pelajaran ini.Tentu saja penggunaannya tidak senbarangan,tetapi
harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang dicapai. Dalam praktiknya
tidak hanya digunakan satu,tetapi bisa juga penggabungan dua atau lebih
pendekatan.
F. Pendekatan kebermaknaan
Bahasa
adalah alat untuk menyampaikan dan memahami gagasan pkiran,pendapat,dan
perasaan,secara lisan maupun tulisan.Bahasa inggris adalah bahasa asing pertama
di Indonesia yang dianggap penting untuk tujuan penyerapan dan pengembangan
ilmu pengetahuan,tekhnologi,seni budaya,dan pembinaan hubungan dengan
bangsa-bangsa lain di dunia.
Beberapa
konsep penting yang menyadari pendekatan ini diuraikan sebagai berikut :
1. Bahasa
merupakan alat untuk mengungkapkan makna yang diwujudkan melalui struktur (tata
bahasa da kosa kata).Dengan demikian,struktur berperan sebagai alat
pengungkapan makna (gagasan,pikiran,pendapat,dan perasaan)
2. Makna
ditentukan olejh lingkup kebahasaan maupun lingkup situasi yang merupakan
konsep dasar dalam pendekatan kebermaknaan pengajaran bahasa yang
natural,didukung oleh pemahaman lintas budaya.
3. Makna
dapat diwujudkan melalui kalimat yang berbeda,baik secara lisan maupun
tertulis.
4. Belajar
bahasa asing adalah berkomukasi melalui bahasa tersebut,sebagai bahasa sasaran,baik
secara lisan maupun tertulis.
5. Motivasi
belajar siswa merupakan factor utama yang menentukan keberhasilan belajarnya.
6. Bahan
pelajaran dan kegiatan pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi siswa jika berhubungan dengan
pengalaman,minat,tata nilai,dan masa depannya.
7. Dalam
proses belajar mengajar,siswa merupakn subjek utama,tidak hanya sebagai objek
belaka.
8. Dalam
proses belajar mengajar guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa
mengembangkan keterampilan bahasanya.
VI.
MACAM- MACAM METODE
Pada
pembahasan terdahulu telah banyak dibicarakan mengenai kedudukan metode dalam
kegiatan belajar mengajar dan cara memilih serta menentukan metode yang sesui
dengan tujuan dan kondisi psikologis anak didik.
Pembahasan
berikut akan membicarakan masalah macam-macam metode mengajaar secar global
untuk memberikan tambahan wawasan umum. Diharapkan dengan uraian ini pembaca
akan mendapatkan gambaran mengenai macam-macam metode mengajar, dan selanjutnya
untuk mendalaminya, pembaaca dapat mencarinya dalam berbagai literatur yang
terdapat pada pustaka acuan dibagian akhir buku ini.
Patut
untuk diketahui, bahwa metode-metode mengajar yang dibahas disini belumlah
semuanya dibicarakan dan untuk selanjutnya pembaca dapat menemukannya didalam
literatur lain. Metode-metode mengajar yang diuraikan berikut ini adalah :
1. Metode
proyek
Metode
proyek atau unit adalah cara penyajian pelajaran yang bertitik tolak dari suatu
masalah, kemudian dibahas dari berbagai segi yang berhubungan sehingga
pemecahannya secara keseluruhan dan bermakna.
Penggunaan
metode ini bertolak dari anggapan bahwa bahwa pemecahan masalah tidak akan
tuntas bila tidak ditinjau dari berbagai segi. Dengan perkataan lain, pemecahan
setiap masalah peru melibatkan bukan hanya satu mata pelajaran atau satu bidang
studi saja, melainkan hendaknya melibatkan berbagai mata pelajaran yang ada
kaitannya dan sumbangannya bagi pemecahan, sehingga tersebut, sehingga setiap
masalah dapat dipecahkan secara keseluruhan yang berarti. Dalam penggunaannya
metode royek memiliki kelebihan dn kekurangan.
Kelebihannya
Beberapa
kelebihan metode ini adalah metode ini antara lain :
1.
Dapat memperluas pemikiran siswa yang berguna dalam menghadapi
masalah kehidupan.
2.
Dapat membina siswa dengan kebiasaan
menerapkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam kehidupan sehari-hari
secara terpadu.Metode ini sesuai dengan prinsip-prinsip didaktik moderen yang
dalam pengajaran perlu diperhatikan :
a.
Kemampuan individual siswa dan kerja
sama dalam kelompok.
b.
Bahan pelajaran tidak terlepas dari
kehidupan riil sehari-hari yang penuh dengan masaah.
c.
Pengembangan aktivitas, kreatifitas dan
pengalaman siswa banyak di lakukan.
d.
Agar teori dan praktik, sekolah dan
kehidupan masyarakat menjadi suatu kesatuan yang tak terpisahkan.
a.
Kekurangannya
Metode ini mengandung kekurangan,
antara lain:
1.
Kurikulum yang berlaku di indonesia saat
ini, baik secara vertikal maupun horizontal, belum menunjang pelaksanaan metode
in.
2.
Pemilihan topik unit yang tepat sesuai
dengan kebutuhan siswa, cukup fasilitas dan sumber-sumber balajar yang di
perlukan, bukanlah merupakan pekerjaan yang mudah,
Bahan pelajaran sering
menjadi luas sehingga dapat mengaburkan pokok unit yang di bahas.
2.
Metode Eksperimen
Metode eksperimen (percobaan) adalah
cara penyajian pelajaran, dimana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan
membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari. Dalam proses belajar mengajar
dengan metode percobaan ini siswa diberi kesempatan untuk mengalami sendiri
atau melakukan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu objek,
menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri mengenai suatu objek,
keadaan, atau proses sesuatu. Dengan demikian, siswa dituntut untuk mengalami
sendiri, mencari kebenaran, atau mencoba meencari suatu hukum atau dalil, dan
menarik kesimpulan atas proses yang dialaminya itu.
Metode
eksperimen mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai berikut :
a. Kelebihan metode eksperimen
a. Kelebihan metode eksperimen
Metode eksperimen mengandung beberapa
kelebihan antara lain:
1. Membuat
siswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya
2. Dapat
membina siswa untuk membuat terobosan-terobosan baru dengan penemuan dari hasil
percobaannya dan bermanfaat bagi kehidupan manusia.
3. Hasil-hasil
percobaan yang berharga dapat dimanfaatkaan untuk kemakmuran umat manusia
b.Kekurangan
metode eksperimen
Metode eksperimen mengandung beberapa
kekurangan, antara lain:
1. Metode
ini lebih sesuai dengan bidang-bidang sains dan teknologi
2. Metode
ini memerlukan berbagai fasilitas peralatan dan bahan yang tidak selalu mudah diperoleh
dan mahal.
3. Metode
ini menuntut ketelitian, keuletan dan ketabahan
4. Setiap
percobaan tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan karena mungkin ada
faktor-faktor tertentu ktor-faktor tertentu yang berada diluar jangkuan
kemampuan atau pengendalian.
3.Metode tugas dan resitasi
Metode
resitasi(penugasan) adalah metode penyajian bahan dimana guru memberikan tugas
tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Masalahnya tugas yang
dilaksanakan oleh siswa dapat dilakukan didalam kelas, atau dimaa saja asal
tugas itu dapat dikerjakan
Metode
ini diberikan karena dirasakan bahan pelajaran terlalu banyak, sementara waktu
sedikit. Artinya, banyaknya bahan yang tersedia dengan waktu kurang simbang.
Agar bahan pelajaran elesai sesuai batas waktu yang ditentukan, maka metode
inilah yang biasanya guru gunakan untuk
mengatasinya.
Tugas
dan resitasi tidak sama dengan pekerjaan rumah(PR) tetapi jauh lebih luas dari
itu. Tugas biasanya bisa di lakukan di rumah,di sekolah, di perpustakaan , dan
di tempat lainnya. Tugas dan resitasi merangsang anak untuk aktif belajar, baik
secara individual maupun secara kelopok. Karena itu, tugas dapat diberikan
secara individual, atau dapat pula secara kelompok.
Tugas
yang dapat diberikan kepada anak didik
ada berbagai jenis.Karena itu, tugas sangat banyak macamnya, bergantung
pada tujuan yang akan di capai;seperti tugas meneliti,tugas menyusun laporan
(lisan/tulisan),tugas motorik (pekrjaan motorik),tugas di laboratorium,dan
lain-lain.
Ada
langkah-langkah yang harus di ikuti dalam penggunaan metode tugas atau
resitasi,yaitu:
a. Fase
Pemberian Tugas
Tugas
yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbangkan:
-
Tujuan yang akan dicapai.
-
Jenis tugas yang jelas dan tepat
sehingga anak mengerti apa yang ditugaskan tersebut
-
Sesuai dengan kemampuan siswa
-
Ada petunjuk/sumber yang dapat membantu
pekerjaan siswa
-
Sediakan waktu yang cukup untuk
mengerjakan tugas tersebut.
b. Langkah
pelaksanaan tugas
-
Diberikan bimbingan/pengawasan oleh guru
-
Diberikan dorongan sehingga anak mau
bekerja.
-
Diusahakan/dikerjakan oleh siswa
sendiri,tidak menyuruh orang lain
-
Dianjurkan agar siswa mencatat
hasil-hasil yang ia peroleh dengan baik dan sistematik .
c. Fase
mempertanggung jawabkan tugas.
Hal yang harus dikerjakan pada fase ini:
-
Laporan siswa baik lisan/tertulis dari
apa yang telah dikerjakannya
-
Ada tanya jawab/diskusi kelas.
-
Penilaian hasil pekerjaan siswa baik
dengan tes maupun nontes atau cara lainnya
Fase
mempertanggung jawabkan tugas inilah yang disebut’’resitasi’’
Metode
tugas dan resirasi mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan antara lain:
1. Kelebihannya
a. Lebih
merangsang siswa dalam melakukan aktivitas belajar individual maupun kelompok
b. Dapat
mengembangkan kemandirian siswa diluar pengawasan guru
c. Dapat
membina tanggung jawab dan disiplin siswa
d. Dapat
mengembangkan kreativitas siswa
2. Kekurangannyan
a. Siswa
sulit dikontrol,apakah benar ia mengerjakan tugas ataukah orang lain
b. Khusus
untuk tugas kelompok,tidak jarang yang aktif mengerjakan dan menyelesaikannya
adalah anggota tertentu saja,sednagkan anggota lainnya tidak berpartisipasi
dengan baik
c. Tidak
mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu siswa
d. Sering
memberikan tugas yang monoton (tidak bervariasi) dapat menimbulkan kebosanan
siswa
4.Metode
Diskusi
Metode diskusi adalah cara penyajian
pelajar, dimana siswa-siswa dihadapkan kepada suatu masalah yang bisa berupa
pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan
dipecahkan bersama.
Teknik diskusi adalah salah satu teknik
belajar mengajar yang dilakukan oleh seorang guru disekolah. Didalam diskusi
ini proses belajar mengajar terjadi, dimana interaksi antara dua atau lebih
individu yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan
masalah dpat terjadi juga semuanya aktif, tidak ada yang passif sebagai
pendengar saja. Metode diskusi ada kelebihan dan kekurangannya, diantaranya
adalah:
a. Kelebihan
metode diskusi
1.
Merangsang kretifitas anak didik dalam bentuk ide, gagasan, prakarsa, dan
terobosan baru dalam pemecahan suatu masalah.
2.
Mengembangkan sikap menghargai pendapat orang lain
3.
memperluas wawasan
4.
memina untuk terbiasa musyawarah untuk mufakat dalam memecahkan suatu masalah.
b. Kekurangan metode diskusi
1. pembicaraan terkadang menyimpang, sehingga
memerlukan waktu yanpanjang
2. tidak dapat dipakai pada kelompok yang
besar
3. peserta mendapat informasi yang terbatas
4.
mungkin dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara atau ingin menonjolkan
diri
5. Metode Sosiodrama
Metode sosiodrama dan role
playing dapat dikatakan sama artinya, dan dalam pemakaiannya sering disilih
gantikan. Sosiodrama pada dasarnya mendramatisasikan tingkah laku dalam
hubungannya dengan masalah sosial.
Tujuan yang diharapkan dengan penggunaan
metode sosiodrama antara lain adalah:
a.Agar siswa dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain
a.Agar siswa dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain
b.Dapat
belajar bagaimana membagi tanggung jawab
c.
Dapat belajar bagaimana mengambil keputusan dalam situasi kelompok secara
spontan
d.
Merangsang kelas untuk berpikir dan memecahkan masalah
Petunjuk guna menggunakan metode sosiodrama
adalah :
a.
Tetapkan dahulu masalah-masalah sosial
yang menarik perhatian siswa untuk dibahas
b.
Ceritakan kepada kelas(siswa) mengenai
isi dar masalah-masalah dalam konteks cerita tersebut
c.
Tetapkan siswa yang dapat atau yang
bersedia untuk memainkan peranannya didepan kelas
d.
Jelaskan kepada pendengar mengenai
peranan mereka pada waktu sosiodrama sedang berlangsung
e.
Beri kesempatan kepada para pelaku untuk
berunding beberapa menit sebelum mereka memainkan peranannya
f.
Akhiri sosiodrama pada waktu situasi
pembicaraan mencapai ketegangan
g.
Akhiri sosiodrama dengan diskusi kelas
untuk bersama-sama memecahkan masalah persoalan yang ada pada sosiodrama
tersebut
h.
Jangan lupa menilai hasil sosiodrama
tersebut sebagai bahan pertimbangan lebih lanjut
Metode sosiodrama
selain mempunyai beberapa kelebihan, juga mempunyai beberapa kekurangan sebagai
berikut :
a.
Kelebihan metode sosiodrama
1.
Siswa
melatih dirinya untuk melatih,memahami, dan mengingat isi bahan yang
akan didramakan. Sebagai pemain harus memahami, menghayati isi cerita secara
keseluruhan , terutama untuk materi yang harus diperankannya. Dengan demikian,
daya ingatan siswa harus tajam dan tahan lama
2.
Siswa akan terlatih untuk berinisiatif
dan berkreatif. Pada waktu bermain drama para pemain dituntut untuk
mengemukakan pendapatnya sesuai dengan waktu yang tersedia.
3.
Bakat yang terdapat pada siswa dapat
dipupuk sehingga dimungkinkan akan muncul atau tumbuh bibit seni drama dari
sekolah. Jika seni rama mereka dibina dengan baik kemungkinan besar mereka akan
menjadi pemain yang baik kelak
4.
Kerja sama antar pemain dapat
ditumbuhkan dan dibina dengan sebaik-baiknya
5.
Siswa memperoleh kebiasaan untuk
menerima dan membagi tanggung jawab dengan sesamanya
6.
Bahasa lisan siswa dapat dibina menjadi
bahasa yang baik agar mudah dipahami orang lain
b.Kekurangan metode
Sosiodrama
1.Sebagian besar anak yang tidak ikut
bermain drama mereka menjadi kurang kreatif
2.Banyak memakan waktu, baik waktu
persiapan dalam rangka pemahaman isi bahan pelajaran maupun pada pelaksanaan
pertunjukan
3.Memerlukan tempat yang cukup luas,
jika tempat bermain sempit menjadi kurang bebas
4.Sering kelas lain terganggu oleh suara
pemain dan para penonton yang kadang-kadang bertepuk tangan dan sebagainya
6.
Metode Demosntrasi
Metode demonstrasi adalah cara penyajian
pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukan kepada siswa suatu proses,
situasi, atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya ataupun
tiruan, yang sering disertai dengan
penjelasan lisan. Dengan metode demonstrasi, proses penerimaan siswa
terhadap pelajaran akan lebih berkesan secara mendalam, sehingg membentuk
pengertian dengan baik dan sempurna. Juga siswa dapat mengamati dan
memperhatikan apa yang diperlihatkan selama pelajaran berlangsung.
Metode demostrasi baik digunakan untuk
mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang hal-hal yang berhubungan dengan
proses mengatur sesuatu, proses membuat sesuatu, proses bekerjanya sesuatu,
proses mengerjakan sesuatu atau mengunakannya, komponen-komponen yang membentuk
sesuatu, membandingkan suatu cara dengan cara lain, dan untuk mengetahui atau
melihat kebenaran sesuatu. Metode demonstrasi mempunyai kelebihan dan
kekurangannya sebagai berikut :
a.
Kelebihan metode demonstrasi
1.
Dapat membuat pengajaran menjadi lebih
jelas dan lebih kongkret, sehingga menghindari verbalisme(pemahaman secara
kata-kata atau kalimat)
2.
Siswa lebih mudah memahami apa yang
dipelajari
3.
Proses pengajaran lebih menarik
4.
Siswa dirangsang untuk aktif mengamati,
menyesuaikan antara teori dengan kenyataan, dan mencoba melakukannya sendiri
b.
Kekurangan metode demonstrasi
1.
Metode ini memerlukan keterampilan guru
secara khusus, karena tanpa ditunjang dengan hal itu pelaksanaan demonstrasi
akan tidak efektif
2.
Fasilitas seperti peralatan, tempat dan
biaya yang memadai tida selalu tersedia dengan baik
3.
Demonstrasi memerlukan kesiapan dan
perencanaan yang matang disamping memerlukan waktu yang cukup panjang, yang
mungkin terpaksa mengambil waktu atau jam pelajaran lain
7.
Metode Problem Solving
Metode problem solving(metode
pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar,tetapi juga merupakan
suatu metode berpikir, sebagai problem solving dapat menggunakan metode-metode
lainnya yang dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.
Penggunaan metode ini dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut
a. Adanya
masalah yang jelas untuk dipecahkan. Masalah ini harus tumbuh dari siswa sesuai
dengan taraf kemampuanya.
b. Mencari
data atau keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut.
Misalnya,dengan jalan membaca buku-buku,meneliti,bertanya.berdiskusi,dan
lain-lain
c. Menetapkan
jawaban sementara dari masalah tersebut. Dugaan jawaban ini tentu sja
didasarkan kepada data yang telah diperoleh,pada langkah kedua di atas
d. Menguji kebenaran jawaban sementara tersebut.
Dalam langkah ini siswa harus berusaha memecahkan masalah sehingga betul-betul
yakin bahwa jawaban tersebut betul-betul cocok. Apakah sesuai dengan jawaban
sementara atau sama sekali tidak sesuai. Untuk menguji kebenaran jawaban ini
tentu saja diperlukan metode-metode lainnya sperti demonstrasi,tugas
diskusi,dan lain-lain.
e. Menarik kesimpulan. Artinya siswa harus smapai
kepada kesimpulan terakhir tentang jawaban dari masalah tadi.
Catatan: Metode
problem solving akan melibatkan banyak kegiatan sendiri dengan bimbingan dari
para pengajar.
Metode
problem solving mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai berikut:
1. Kelebihan
Metode Problem Solving
a. Metode
ini dapat membuat pendidikan di sekolah menjadi lebih relevan dengan
kehidupan,khususnya dengan dunia kerja
b. Proses
belajar mengajar melalui pemecahan masalah dapat membiasakan para siswa
menghadapi dan memecahkan masalah secara terampil,apabila menghadapi
permasalahan dalam kehidupan dalam keluarga,bermasyarakat,dan bekerja
kelak,suatu kemampuan yang sangat bermakna bagi kehidupan manusia.
c. Metode
ini merangsang pengembangan kemampuan berfikir siswa secara kreatif dan
menyeluruh,karena dalam proses belajarnya,siswa banyak melakukan mental dengan
menyeroti permasalahan dari berbagai segi dalam rangka mencari pemecahan.
2. Kekurangan
Metode Problem Solving
a. Menentukan
suatu masalah yang tingkat kesulitanya sesuai dengan tingak berfikir
siswa,tingkat sekolah dan kelasnya serta pengetahuan dan pengalaman yang telah
dimiliki siswa,sangat memerlukan kemampuan dan keteraman kelasnya serta
pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki siswa,sangat memerlukan
kemampuan dan keteramapilan guru. Sering orang beranggapan keliru bahwa metode
pemecahan masalah hanya cocok untuk SLTP,SLTA,dan PT saja. Padahal, untuk siswa
SD sederajat juga bisa dilakukan dengan tingkat kesulitan permasalahan yang
sesuai dengan taraf kemampuan berfikir anak.
b. Proses
belajar mengajar dengan menggunakan
metode ini sering m sering memerlukan waktu yang cukup banyak dan sering terpaksa mengambil waktu pelajaran lain.
c. Menhgubah
kebiasaan siswa belajar dengan mendengarkan dan menerima informasi dari guru
menjadi belajar dengan banyak berfikir memecahkan permasalahan sendiri atau
kelompok, yang kadang-kadang memerlukan berbagai sumber belajar, merupakan kesulitan tersendiri bagi
siswa.
8.
Metode Karyawisata
kadang-kadang dalam proses belajar
mengajar siswa perlu di ajak keluar sekolah, untuk meninjau tempat tertentu
atau objek yang lain. Hal ini bukan sekedar rekreasi, tetapi untuk belajar atau
memperdalam pelajaran nya dengan melihat kenyataan. Karena itu, dikatakan
teknik karyawisata, adalah cara mengajar yang di laksanakan dengan mengajar
siswa ke suatu tempat atau objek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari/menyelidiki
sesuatu seperti meninjau pabrik sepatu, suatu bengkel mobil,took serba ada,
suatu peyernakan atau perkebunan,museum, dan sebagainya. Banyak istilah yang di
gunakan, tetapi maksudnya sama dengan karya wisata, seperti widya wisata, study
–tour, dan ada pula dalam waktu beberapa hari atau waktu panjang
Metode karyawisata mempunyai
beberapa kelebihan dan kekuranagnan:
a. Kelebihan
Metode Karyawisata
1. Karya
wisata memiliki prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata
dalam pengajaran.
2. Membuat
apa yang di pelajari di sekolah lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan di
masyarakat.
3. Pengajaran
serba ini dapat lebih merangsan kreatifitas siswa.
4. Informasi
sebagai bahan pelajaran lebih luas dan actual.
b. Kekurangan
Metode Karyawisata
1. Fasilitas
yang diperlukan dan biaya yang dipergunakan sulit untuk disediakan oleh siswa
ke sekolah.
2. Sangat
memerlukan persiapan atau perencanaan yang matang.
3. Menentukan
koordinasi dengan guru serta bidang study Lain akan terjadi tumpang tindih
waktu dan kegiatan selama karyawisata.
4. Dalam
karya wisata sring unsure rekreasi menjadi lebih prioritas dari pada tujuan
utama, sedang unsure studynya menjadi terabaikan.
5. Sulit
mengatur siswa yang banyak dalam perjalanan dan mengarahkan mereka kepada
kegiatan studi yang menjadi permasalahan.
9. metode Tanya jawab
Metode
Tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus
di jawab, terutamaq dari guru kepada siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada
guru.
Metode Tanya
jawab adalah yang tertua dan banyak digunakan dalam proses pendidikan, baik di
lingkungan keluarga, masyarakat maupun sekolah.
Metode Tanya
jawab memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan sebagai berikut.
a.
Kelebihan metode Tanya jawab
1. Pertanyaan
dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa, sekalipun keyika itu siswa sedang
rebut, yang mengantuk kembali tegar dan hilang kantuknya
2. Merangsang
siswa untuk melatih dan mengembangkan daya piker, termasuk daya ingatan
3. Mengembangkan
keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat
b. Kekurangan
metode Tanya jawab
1. Siswa
merasa takut, apalagi bila guru kurang dapat mendorong siswa untuk berani,
dengan menciptakan suasana yang tidak tegang, melainkan akrab.
2. Tidak
mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat berpikir dan mudah dipahami
siswa
3. Waktu
sering banyak terbuang, terutama apabila siswa tidak dapat menjawabpertanyaan
sampai dua atau tiga orang
4. Dalam
jumlah siswa yang banyak, tidak mungkin cukup waktu untuk memberikan pertanyaan
kepada setiap siswa
10. metode
latihan
Metode
latihan yang di sebut juga metode training, merupakan suatu cara mengajar yang
baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga sebagai sarana untuk
memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik. Selain itu, metode ini dapat juga
digunakan untuk memperoleh sesuatu ketankasan, ketepatan, kesempatan dan
keterampilan.
Sebagai
suatu metode yang di akui banyak kelebihan, juga tidak dapat di sangkal bahwa
metode latihan mempunyai beberapa
kelemahan. Maka dari itu guru yang ingin mempergunakan metode ini
kiranya tidak salah bila memahami karakteristik metode ini.
a. Kelebihan
metode latihan
1. Untuk
memperoleh kecakapan motorik, seperti menulis melafalkan huruf, kata-kata atau
kalimat, membuat alat-alat, menggunakan alat-alat (mesin permainan atau
atletik) dan terampil menggunakan peralatan
olahraga
2. Untuk
memperoleh kecakapan mental seperti
dalam perkalian, menjumlahkan, pengurangan, pembagian, tanda-tanda
(simbo), dan sebagainya
3. Untuk
memperoleh kecakapan dalam bentuk asosiasi yang dibuat, seperti hubungan
huruf-huruf dalam ejaan, penggunaan symbol, membaca peta, dan sebagainya
4. Pembentukan
kebiasaan yang dilakukan dan menambah ketepatan serta kecepatan pelaksanaan
5. Pemanfaatan
kebiasaan-kebiasaan yang tidak memerlukan konsentrasi dalam pelaksanaannya
6. Pembentukan
kebiasaan-kebiasaan membuat gerakan-gerakan yang kompleks, rumit, menjadi lebih
otomatis
b. Kelemahan
metode latihan
1. menghambat bakat dan inisiatif siswa, karena
siswa lebih banyak dibawa kepada penyesuaian di arahkan jauh dari pengertian.
2. Menimbulkan
penyesuaian secara statis kepada lingkungan.
3. Kadang-kadang
latihan yang dilaksanakan secara berulang-ulang merupakan hal yang monoton,
mudah membosankan.
4. Membentuk
kebiasaan yang kaku, karena bersifat otomatis.
5. Dapat
menimbulkan verbalisme.
11. Metode ceramah
Metode ceramah adalah
metode yang boleh dikatakan metode tradisional, karena sejak dulu metode ini
telah di pergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak didik
dalam proses belajar mengajar. Meski metode ini lebih banyak menuntut keaktifan
guru daripada anak didik, tetapi metode ini tetap tidak bisa di tinggalkan
begitu saja dalam kegiatan pengajaran. Apalagi dalam pendidikan dan pengajaran
tradisional, seperti di pedesaan, yang kekurangan fasilitas
Cara mengajar dengan ceramah dapat dikatakan juga sebagai
tekhnik kuliah, merupakan suatu cara mengajar yang digunakan untuk menyampaikan
keterangan atau informasi atau uraian tentang suatu pokok persoalan serta
masalah secara lisan
Dengan
demikian, dapat dipahami bahwa metode ceramah adalah cara penyajian pelajaran
yang dilakukan guru dengan penuturan atau penjelasan lisan secara langsung
terhadap siswa.
Metode
ini mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangannya sebagai berikut :
a. Kelebihan
metode ceramah
1. Guru
mudah menguasai kelas
2. Mudah
mengorganisasikan tempat duduk/ kelas
3. Dapat
diikuti oleh jumlah siswa yang besar
4. Mudah
mempersiapkan dan melaksanakannya
5. Guru
mudah menerangkan pelajaran dengan baik
b. Kelemahan
metode ceramah
1. Mudah
menjadi verbalisme (pengertian kata-kata).
2. Yang
visual menjadi rugi, yang auditif
(mendengar)yang besar menerimanya
3. Bila
selalu digunakan dan terlalu lama, membosankan
4. Guru
menyimpulkan bahwa siswa mengerti dan tertarik pada ceramahnya, ini sukar
sekali.
5. Menyebabkan
siswa menjadi pasif
D. Praktis Penggunaan
Metode Mengajar
Dalam praktiknya, metode mengajar tidak digunakan
sendiri-sendiri, tetapi merupakan kombinasi dari beberapa metode mengajar.
Berikut akan dikemukaakan kemungkinan kombinasi metode mengajar.
1. C
eramah, Tanya Jawab, dan Tugas
Mengingat
ceramah banyak segi yang kurang menguntungkan, maka penggunaannya harus didukung dengan alat dan media
ataundengan metode lain. Karena itu, setelah guru menberikan ceramah, maka
dipandang perlu untuk memeberikan kesempatan kepada siswanya mengadakan Tanya
jawab. Tanya jawab ini di perlukan untuk
mengetahui pemahaman siswa terhadap apa
yang telah di sampaikan guru melalui metode ceramah. Untuk lebih memantapkan
penguasaan siswa terhadap bahan yang telah disampaikan, maka pada tahap
selanjutnya siswa diberi tugas, misalnya membuat kesimpulan hasil ceramah,
mengerjakan pekerjaan rumah, diskusi, dan sebagainya. Tabel 1 (lihat di halaman 99) adalah kegiatan yang mungkin dapat di
laksanakan dari ketiga jenis metode tersebut.
2. Ceramah,Diskusi,dan
Diskusi
Penggunaan
ketiga jenis mengajar ini dapat dilakukan diawali dengan memberikan kepada
siswa tentang bahan yang akan di diskusikan oleh siswa, lalu memberikan masalah
untuk di diskusikan. Kemudian di ikuti dengan tugas-tugas yang harus dilakukan
siswa
3. Ceramah,Demonstrasi,
dan Eksperimen
Penggunaan
metode demonstrasi selalu diikuti dengan eksperimen. Apa pun yang didemonstrasikan,
baik oleh guru maupun oleh siswa(yang dianggap mampu untuk melakukan
demonstrasi), tanpa diikuti dengan eksperimen tidak akan mencapai hasil yang
efektif. Dalam melaksanakan demonstrasi, seorang demonstrator menjelaskan apa
yang akan didemonstrasikannya menjelaskan apa yang akan didemonstrasikannya
(biasanya suatu proses ), sehingga semua siswa dapat mengikuti jalannya
demonstrasi tersebut dengan baik.
4. Ceramah,
Sosiodrama, dan Diskusi
Sebelum
metode sosiodrama digunakan, terlebih dahulu harus diawali dengan penjelasan
dari guru tentang situasi social yang akan didramatisasikan oleh para
pemain/pelaku. Tanpa diberikan penjelasan, anak dididik tidak akan dapat
melakukan peranannya dengan baik. Karena itu, ceramah mengenai masalah social
yang akan didemonstrasikan penting sekali di laksanakan sebelum melakukan
sosiodrama
hm...
BalasHapus